Israel Perluas Serangan Darat di Lebanon, Bayang-bayang ‘Gaza Kedua’ Menghantui

Serangan Darat di Lebanon
Tentara Israel di kendaraan militer bersiaga di perbatasan Israel-Lebanon, di tengah eskalasi antara Hizbullah dan Israel, dan di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Israel utara, 16 Maret 2026. (Foto: Reuters)

Patrolmedia, Beirut – Militer Israel (IDF) memperluas serangan darat di Lebanon selatan. Tindakan itu memicu kekhawatiran global.

Langkah ini diprediksi memicu pendudukan berkepanjangan dan pengusiran paksa warga sipil, serupa dengan kondisi di Jalur Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memerintahkan IDF untuk menghancurkan ‘infrastruktur teror’ di desa-desa perbatasan Lebanon.

Ia bahkan membandingkan operasi itu dengan serangan ke Hamas di Rafah dan Beit Hanoun.

“Ratusan ribu warga di Lebanon selatan dan Beirut yang mengungsi tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka sampai keselamatan warga Israel di utara terjamin,” tegas Katz dalam pernyataannya, Senin (16/3/2026), dikutip dari The Guardian.

Pernyataan keras Katz menuai kritik tajam. Peneliti Human Rights Watch (HRW), Ramzi Kaiss, menilai ancaman pelarangan kembali warga sipil ke rumah mereka dikategorikan pelanggaran hukum internasional.

“Mencegah warga sipil kembali ke rumah sampai standar ‘keamanan’ yang tidak jelas terpenuhi adalah tindakan melanggar hukum. Ini meningkatkan risiko pengusiran paksa yang merupakan kejahatan perang,” tegas Kaiss.

Bagi warga Lebanon, langkah Israel ini membangkitkan trauma lama masa pendudukan tahun 1982-2000.

Saat itu, militer Israel menguasai wilayah selatan Lebanon selama belasan tahun sebelum akhirnya dipaksa mundur.

“Semoga Tuhan melarang kita kembali ke masa pendudukan itu. Kami sangat takut. Pengungsian ini memalukan, orang-orang bahkan kesulitan mendapatkan makanan,” ujar Abbas Awadeh, anggota dewan kota Naqoura yang kini ikut mengungsi.

Data Krisis Pengungsi Lebanon mencatat:

Total Pengungsi: Sekitar 1 juta orang meninggalkan rumah.

Korban Jiwa: Laporan menyebut 826 hingga 850 orang tewas sejak eskalasi dimulai.

Wilayah Terdampak: Seluruh area di selatan Sungai Litani diperintahkan kosong oleh IDF.

Analis militer menilai Israel tengah menerapkan doktrin keamanan baru pasca-peristiwa 7 Oktober.

Profesor Yagil Levy dari Universitas Terbuka Israel menyebut Israel sedang mencoba membangun ‘perimeter’ atau zona penyangga, seperti Gaza.

Menariknya, IDF mengusir secara selektif. Beberapa desa dengan populasi Kristen atau Sunni tertentu diizinkan menetap dengan syarat ketat.

“Militer Israel berkata: ‘Jangan tinggalkan rumahmu, tapi jangan terlibat dan jangan izinkan orang asing (Hizbullah) mendekat’,” kata Walikota Kfar Shouba, Qassem al-Adiri.

Hingga saat ini, meski upaya diplomatik berjalan, Israel tampak merangsek masuk mengubah peta kekuatan di lapangan sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai.

 

 

(Kml/Ft)