Bule Protes Tadarus di Gili Trawangan, Kemenag: Pakai Speaker Dalam Sesuai Edaran

Bule protest tadarus
Petugas Imigrasi dan Aparat Kepolisian memeriksa Miranda Lee, Warga Selandia Baru yang mengamuk lantaran kesal mendengar suara speaker mushalla. (Foto: Dok. Humas Polres Lombok Utara)

Patrolmedia, ​Jakarta – Media sosial sempat dihebohkan dengan aksi bule protes Tadarus di malam pertama Ramadan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.

Bule Protes Tadarus

Menanggapi insiden itu, Kementerian Agama (Kemenag) mengingatkan kembali aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.

​Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki panduan resmi terkait hal ini. Pedoman tersebut bertujuan untuk menjaga harmoni dan kenyamanan bersama.

​”Penggunaan pengeras suara sebenarnya sudah ada pedomannya dalam Surat Edaran Menteri Agama untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama. Jadi kalau tadarus, sebaiknya menggunakan speaker dalam,” ujar Thobib, Minggu (22/2/2026), dikutip dari laman Kemenag.

​Thobib menjelaskan, aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE.05 Tahun 2022. Dalam edaran tersebut, volume pengeras suara diatur sesuai kebutuhan dengan batas maksimal 100 desibel.

​Berikut adalah poin-poin utama penggunaan pengeras suara menurut SE tersebut:

​Tadarus & Tarawih: Pelaksanaan salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarus Al-Qur’an wajib menggunakan pengeras suara dalam.

Azan: Tetap menggunakan pengeras suara luar.

​Sebelum Azan: Pembacaan Al-Qur’an atau selawat sebelum Subuh maksimal 10 menit (luar). Untuk Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya maksimal 5 menit (luar).