Harga emas global mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, melampaui angka psikologis 5.000 dollar AS per ons pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026. Kenaikan harga emas yang signifikan ini terjadi lebih cepat dari ekspektasi pasar, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik dan risiko krisis utang global.
Harga emas di pasar spot tercatat naik 0,85 persen menjadi 5.024,95 dollar AS per ons pada pukul 23.41 GMT. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari juga menguat 0,91 persen ke level 5.024,60 dollar AS per ons. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp 16.779 per dollar AS, harga tersebut setara dengan sekitar Rp 84,3 juta per ons. Di pasar COMEX, kontrak emas Februari 2026 sempat menyentuh level 5.080,60 dollar AS per ons, atau menguat lebih dari 2 persen.
Sejak awal tahun 2026, harga emas dunia telah mengalami kenaikan sekitar 15–16 persen, melanjutkan tren positif setelah melonjak sekitar 64–65 persen sepanjang tahun 2025. Lonjakan tajam harga emas ini mencerminkan derasnya arus dana investor yang mencari aset lindung nilai (safe haven) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Faktor-faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Beberapa isu global menjadi katalis utama yang mendorong kenaikan harga emas, di antaranya:
Konflik Ukraina–Rusia: Konflik yang berkepanjangan tanpa adanya tanda-tanda penyelesaian yang jelas terus memicu ketidakpastian global.
Ketegangan Antara AS dan NATO terkait Greenland: Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan NATO terkait Greenland menambah lapisan ketidakpastian dalam lanskap geopolitik.
Ancaman Tarif AS terhadap Kanada: Ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat terhadap Kanada jika negara tersebut melanjutkan kerja sama dagang dengan China semakin memperkuat sentimen risiko di pasar.
Faktor-faktor tersebut secara kolektif memperkuat sentimen risiko dan mendorong minat investor terhadap emas sebagai aset yang aman.
Debasement Trade dan Pelemahan Dollar AS
Senior Fellow Brookings Institution, Robin Brooks, berpendapat bahwa reli harga emas saat ini bukan hanya sekadar reaksi jangka pendek terhadap isu geopolitik. Ia melihat lonjakan harga logam mulia ini sebagai bagian dari fenomena yang lebih besar, yaitu debasement trade, atau strategi investasi yang mengantisipasi penurunan nilai mata uang akibat inflasi.
Menurut Brooks, pasar mulai mengantisipasi potensi krisis utang global, di mana pemerintah berisiko mencoba menggerus nilai utang melalui inflasi. Ia juga menyoroti pergerakan indeks dollar AS yang mulai melemah sejak awal tahun 2026, setelah relatif stabil pada paruh kedua tahun 2025. Pelemahan dollar tersebut dinilai memperkuat daya beli investor non-dollar dan semakin mendorong kenaikan harga emas. “Dollar AS yang melemah akan mempercepat kenaikan harga emas dan memperkuat debasement trade,” ujarnya.
Permintaan Emas yang Kuat
Dari sisi permintaan, emas tetap ditopang oleh beberapa faktor utama:
Pembelian Kuat Sebagai Aset Aman: Permintaan emas sebagai aset safe haven terus meningkat di tengah ketidakpastian global.
Pelonggaran Kebijakan Moneter Amerika Serikat: Kebijakan moneter yang lebih longgar di Amerika Serikat juga turut mendukung kenaikan harga emas.
Aksi Beli Bank Sentral: Bank sentral dari berbagai negara terus melakukan pembelian emas, menambah permintaan secara keseluruhan.
China tercatat telah memperpanjang pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember 2025. Meskipun demikian, Brooks berpendapat bahwa permintaan bank sentral saja belum cukup menjelaskan lonjakan harga emas yang terjadi secara masif pada awal tahun ini. “Fakta bahwa lonjakan ini terjadi secara luas di seluruh logam mulia menunjukkan bank sentral bukan pendorong utama,” tulisnya.
Proyeksi Harga Emas yang Lebih Tinggi
Sejumlah lembaga dan analis telah merevisi proyeksi harga emas ke level yang lebih tinggi.
Goldman Sachs: Menaikkan target harga emas akhir tahun dari 4.900 dollar AS menjadi 5.400 dollar AS per ons, seiring meningkatnya partisipasi investor sektor swasta yang mencari diversifikasi portofolio dan perlindungan nilai aset di tengah ketidakpastian kebijakan global.
Metals Focus: Direktur Metals Focus, Philip Newman, memperkirakan harga emas masih berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mencapai puncak di kisaran 5.500 dollar AS per ons pada akhir tahun ini.
Analis Independen Ross Norman: Memproyeksikan harga emas bisa menembus 6.400 dollar AS per ons pada 2026, dengan rata-rata sekitar 5.375 dollar AS per ons.
Kenaikan Harga Logam Mulia Lainnya
Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot naik 1,72 persen menjadi 104,72 dollar AS per ons, setelah menembus level 100 dollar AS per ons untuk pertama kalinya pada Jumat lalu. Sepanjang tahun 2025, harga perak telah melonjak sekitar 147 persen, didorong oleh arus masuk investor ritel, pembelian berbasis momentum, serta kondisi pasar fisik yang ketat. Harga platinum spot tercatat stabil di level 2.767 dollar AS per ons, sementara palladium naik tipis 0,17 persen menjadi 2.013,50 dollar AS per ons. Di sisi lain, harga tembaga juga mencetak rekor tertinggi setelah menembus 13.000 dollar AS per ton di pasar London.






















