Patrolmedia, Jakarta – Awal 2026 menjadi momen besar menata ulang kesehatan finansial. Namun, menabung saja tak cukup menghadapi gerusan inflasi. Masyarakat didorong melek pasar modal sebagai strategi menjaga daya beli di masa depan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menekankan bahwa investasi di pasar modal bukan sekadar mencari cuan instan atau spekulasi.
Ini adalah instrumen produktif membantu masyarakat mencapai tujuan jangka panjang, seperti dana pendidikan hingga hari tua.
Lawan Inflasi dengan Investasi
Di tengah dinamika ekonomi global, menyimpan uang secara konvensional berisiko tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup.
Pasar modal menawarkan fleksibilitas melalui berbagai instrumen (saham, reksa dana, surat utang) yang bisa disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu investor.
”Investasi yang sehat butuh perencanaan matang dan kedisiplinan tinggi. Pasar modal menjadi sarana rasional, bukan sumber kecemasan,” tulis laporan tersebut.
Masifnya Literasi Keuangan
Data menunjukkan antusiasme masyarakat kian tinggi.
Sepanjang tahun 2025, BEI telah menggelar 29.474 kegiatan edukasi secara offline maupun webinar yang menjaring lebih dari 2,8 juta peserta.
Di media sosial, jangkauan edukasi bahkan menembus 24 juta audience.
BEI berkomitmen terus memperkuat literasi agar masyarakat terhindar dari tawaran investasi bodong yang tidak masuk akal.
Cara Memulai: Sekolah Pasar Modal
Bagi pemula yang ingin mewujudkan resolusi finansial 2026, berikut langkah praktisnya:
Akses Edukasi: Ikuti Sekolah Pasar Modal (SPM) yang tersedia secara online maupun offline.
Pahami Produk: Pelajari legalitas dan mekanisme risiko melalui situs resmi www.idx.co.id.
Buka Rekening Efek: Mendaftarlah di perusahaan sekuritas untuk mendapatkan pendampingan dan akses ke instrumen saham atau reksa dana.
Membangun keuangan sehat adalah perjalanan panjang. Dengan memanfaatkan pasar modal secara bijak, individu memiliki peluang membangun ketahanan finansial yang lebih kuat di tengah ketidakpastian global.
(Ipl/Ft)






















