Gembong narkoba Dewi Astutik ditangkap
Begitu kendaraan tersebut berhenti di area hotel, tim penindak yang telah bersiaga langsung mengepung titik lokasi.
Mereka bergerak cepat untuk mengamankan PA yang saat itu sedang bersama seorang laki-laki yang hingga kini masih diperiksa keterlibatannya.
Kecepatan eksekusi bukan tanpa alasan. BNN memastikan tidak ada celah bagi target untuk melarikan diri atau bahkan menghancurkan barang bukti yang kemungkinan masih berada di tangannya.
Skenario penyergapan dirancang untuk meminimalkan risiko perlawanan maupun gangguan eksternal.
Di lokasi penangkapan, tim BNN segera melakukan verifikasi lapangan.
“Tim BNN Republik Indonesia langsung melakukan verifikasi dan klarifikasi fisik untuk memastikan bahwa orang yang diamankan adalah benar DPO dimaksud,” ujar Komjen Suyudi.
Proses pencocokan dilakukan melalui ciri fisik, dokumen pendukung, hingga data intelijen yang sudah terkumpul selama berbulan-bulan.
Setelah identitas PA dinyatakan cocok, ia segera dibawa untuk proses hukum lebih lanjut sesuai mekanisme kerja sama internasional. Prosedur ini menjadi bagian penting sebelum proses pemulangan ke Indonesia.
Penangkapan Dewi Astutik bukan kasus biasa. Ia diduga menjadi aktor utama dalam penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun yang diungkap BNN pada Mei 2025.
Jumlah tersebut termasuk salah satu kasus terbesar dalam sejarah penindakan narkotika di Indonesia.
BNN menyebut PA sebagai figur penting dalam jaringan narkotika internasional yang beroperasi di kawasan Golden Triangle dan merambah Asia hingga Afrika.
Keberhasilannya ditangkap membuka peluang besar untuk membongkar struktur jaringan yang lebih luas, termasuk pihak-pihak yang selama ini berada di balik layar.
Operasi penangkapan di Kamboja ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak ragu mengejar buronan narkotika hingga ke luar negeri.
BNN menegaskan komitmennya untuk terus mempersempit ruang gerak jaringan internasional yang memasok sabu dalam jumlah masif ke Indonesia.
(Iwn/EN)























