Patrolmedia, Batam – Penutupan Sejumlah U-turn atau putar balik di jalan raya Kota Batam oleh Satlantas Polresta Barelang, menuai beragam reaksi dari pengendara.
Banyak pengendara yang mengaku kerepotan dan merasa jarak tempuh kini makin jauh. Namun, aparat kepolisian menegaskan kebijakan ini bukan tanpa alasan.
Selama beberapa tahun terakhir, titik-titik U-turn menjadi salah satu lokasi kecelakaan lalu lintas paling sering di Batam.
Pengendara, khususnya sepeda motor, kerap memaksakan diri memutar di tengah arus kendaraan yang melaju cepat.
Situasi itu berulang hampir setiap hari di beberapa ruas jalan utama.
Kasat Lantas Polresta Barelang, Kompol Afiditya Arief Wibowo, mengungkapkan data kajian kecelakaan menunjukkan tren yang sama sejak 2023 hingga 2025.
“U-turn di beberapa ruas jalan di Kota Batam ini merupakan salah satu penyumbang angka laka lantas tertinggi,” kata Kompol Afiditya, dikutip dari video edukasi Satlantas Polresta Barelang, Senin (24/11/2025).
Atas dasar itu, sejumlah titik putar balik kini ditutup menggunakan road barrier beton. Menurut Satlantas, ini adalah langkah pencegahan agar pengendara tidak memutar secara sembarangan dan meminimalkan titik rawan tabrakan.
Penutupan ini juga sejalan dengan aturan Undang-Undang Lalu Lintas Pasal 112. Dalam aturan tersebut, pengemudi yang hendak berpindah lajur atau berputar wajib memastikan kondisi jalan aman serta menyalakan lampu sein sejak dini.
Artinya, U-turn yang masih dibuka saat ini merupakan titik-titik yang sudah dievaluasi dan dianggap relatif aman.
Pengendara dianjurkan memanfaatkan jalur resmi tersebut dan tidak mencari celah memutar di titik-titik ilegal yang justru membahayakan.
Meski begitu, sebagian masyarakat tetap mengeluhkan perubahan ini.
Mereka menilai jarak tempuh menjadi lebih jauh karena harus memutar di titik yang ditentukan.
“Jadi makin ribet,” keluh seorang pengendara, dalam ilustrasi video tersebut.
Namun, pendapat berbeda juga muncul. Ada pengendara yang memilih mengikuti aturan demi keselamatan.
“Jauh sedikit tak apa, yang penting selamat,” ujar warga lain di video itu.
Polantas mengingatkan, keamanan pengguna jalan jauh lebih penting dari sekadar kenyamanan.
Penutupan U-turn, meski terkesan menyulitkan, dirancang untuk menekan angka kecelakaan yang terus terjadi dari tahun ke tahun.
Masyarakat juga diimbau memahami bahwa perubahan perilaku berkendara butuh adaptasi.
Namun dampak positifnya bisa dirasakan dalam jangka panjang, terutama mengurangi korban kecelakaan yang kerap melibatkan pengendara motor.
Satlantas Polresta Barelang meminta pengendara untuk tidak memaksakan diri berputar di titik yang sudah ditutup.
Selain membahayakan diri sendiri, tindakan itu juga dapat memicu kecelakaan beruntun bagi pengguna jalan lainnya.
Pada akhirnya, keselamatan tetap menjadi tujuan utama. Batam tak hanya membutuhkan jalan raya yang lebar dan rapi, tetapi juga pengendara yang sadar, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan bersama.
(Iwn/EN)






















