Perang Militer Sudan Melawan RSF Tewaskan 700 Lebih Warga di Al Fashir

Militer Sudan
Anak-anak pengungsi Sudan berdiri di kamp Zamzam, di Darfur Utara, Sudan, 1 Agustus 2024. REUTERS/Mohamed Jamal Jebrel/File Hak Lisensi Pembelian Foto
Militer Sudan
Anak-anak pengungsi Sudan berdiri di kamp Zamzam, di Darfur Utara, Sudan, 1 Agustus 2024. (Foto:  REUTERS/Mohamed Jamal Jebrel) 

Patrolmedia, JenewaPerang antara militer Sudan melawan Pasukan Dukungan Cepat atau Rapid Support Forces (RSF), menewaskan lebih dari 700 warga sipil tewas di Al-Fashir negara bagian Darfur Utara, Sudan sejak Mei.

Hal itu diungkapan Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB pada Jumat (27/12/24) sambil memohon ke Pasukan Paramiliter RSF agar menghentikan pengepungan kota Al-Fashir.

Melansir Reuters, Minggu (22/12/24), Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk dalam pernyataannya menyebut pengepungan dan pertempuran tanpa henti menghancurkan kehidupan setiap hari dengan skala besar.

“Situasi yang mengkhawatirkan ini tidak dapat berlanjut. Pasukan Dukungan Cepat Rapid Support Forces (RSF) harus mengakhiri pengepungan yang mengerikan ini,” kata Türk.

Kantor HAM PBB mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan kematian sedikitnya 782 warga sipil dan lebih dari 1.143 orang terluka sejak Mei.

Türk menyebut korban itu terjadi di tengah penembakan rutin dan intensif oleh Pasukan Paramiliter RSF terhadap daerah pemukiman padat penduduk serta serangan udara yang berulang kali dilakukan Angkatan Bersenjata Sudan.

Serangan terhadap warga sipil seperti itu mungkin merupakan kejahatan perang, kata kantor hak asasi manusia PBB.

Kedua belah pihak telah berulang kali membantah sengaja menyerang warga sipil dan saling menuduh melakukan hal tersebut di al-Fashir dan sekitarnya.

Militer Sudan dan RSF telah terlibat konflik selama lebih dari 18 bulan, memicu krisis kemanusiaan yang parah yang menyebabkan lebih dari 12 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan badan-badan PBB kesulitan memberikan bantuan.

Al-Fashir adalah salah satu garis depan paling aktif antara RSF dan tentara Sudan serta sekutunya yang berjuang mempertahankan pijakan terakhir di wilayah Darfur.

Para pengamat khawatir kemenangan RSF disana menimbulkan pembalasan etnis, seperti yang terjadi di Darfur Barat tahun lalu.

Earlier this month the RSF attacked the main hospital, killing at least nine people, locals said.

Nearby Zamzam camp, where experts say a famine is occurring among a population of more than half a million people, has also come under RSF artillery fire over the last two weeks, forcing thousands to leave the camp.

“Awal bulan ini RSF menyerang rumah sakit utama, menewaskan 9 orang,” kata penduduk setempat.

Kamp Zamzam di dekatnya yang menurut para ahli merupakan tempat terjadinya kelaparan di antara populasi lebih dari setengah juta orang.

Mereka juga mendapat serangan artileri RSF selama 2 pekan terakhir yang memaksa ribuan orang meninggalkan kamp.