Gayatri Enggan Pimpin Majapahit, Dyah Gitarja Naik Tahta

Ilustrasi Dyah Gitarja Tribuwana Tunggadewi, Raja ke 3 Majapahit.
Panbil Mall
Ilustrasi Hayam Wuruk.

Denys Lombard (1996) dalam Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, menyebut bahwa Rajapatni (nama lain Gayatri) dan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, jelas-jelas memegang peranan penting dalam kehidupan politik Kerajaan Majapahit selama zaman mereka, yakni 1328-1350 (hlm. 93).

Saat Dyah Gitarja turun tahta, tongkat kepemimpinan Majapahit diserahkan ke putra mahkota, Hayam Wuruk.

Tribhuwana kemudian menjadi salah satu anggota Saptaprabhu, setara dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan.

Sebagai penghormatan untuk Gayatri, Raja Hayam Wuruk menggelar upacara besar-besaran yang bernama Upacara Srada.

Dalam tulisan Purwadi, Jejak Nasionalisme Gajah Mada, 2004:214), seluruh pegawai istana, pemuka kerajaan, rayat, juga para raja dari berbagai negeri datang berbondong-bondong ke Majapahit untuk menghadiri upacara Srada.

Dyah Gitarja dan Gajah Mada mendampingi Hayam Wuruk dalam mengelola pemerintahan, termasuk meneruskan obsesi penaklukan wilayah-wilayah lain di Nusantara.

Masa itu, Majapahit benar-benar berada di puncak kejayaannya yang dirintis sejak kepemimpinan sang rajaputri Dyah Gitarja Tribhuwana Tunggadewi.

Nino Oktorino dalam Hikayat Majapahit: Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara (2020), tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya Tribhuwana Wijayatunggadewi meninggal dunia.

Pararaton menceritakan, mantan Raja Putri
Tribhuwana Tunggadewi wafat setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih pada 1371 M.

Jasad Tribhuwana Wijayatunggadewi disucikan di Candi Pantarapura di Desa Panggih, Trowulan, Mojokerto.

Penulis: Erwin Syahril
Editor: Erwin Syahril