Gayatri Enggan Pimpin Majapahit, Dyah Gitarja Naik Tahta

Ilustrasi Dyah Gitarja Tribuwana Tunggadewi, Raja ke 3 Majapahit.
Panbil Mall
Dyah Gitarja menjadi Raja perempuan pertama Majapahit. (Foto: Ilustrasi)

Awal pemerintahan Dyah Gitarja 1331, masih terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta.

Aksi pemberontakan Sadeng dan Keta dilatarbelakangi tewasnya rakryan patih pertama Kerajaan Majapahit bernama Nambi pada 1316.

Penyebab Sadeng-Keta Berontak Lawan Majapahit

Sedangkan peristiwa tewasnya Nambi, terjadi pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanegara 1309-1328.

Era Jayanegara kerap terjadi peristiwa pemberontakan yang muncul karena kepemimpinannya yang buruk.

Tak heran ia diberi cap kalagamet atau lemah, jahat, dan tidak bermoral.

Pemberontakan Sadeng dan Keta akhirnya dapat dipadamkan oleh Gajah Mada dan
bantuan sahabatnya yakni Adityawarman dari Dharmasraya tanah Melayu yang waktu itu berkunjung ke kerajaan Majapahit di Jawa.

Atas jasanya tersebut, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Maha Patih, jabatan tertinggi kedua setelah raja.

Dilansir dari Pitono Hardjowardojo, Sedjarah Indonesia Lama, 1961:191, Gajah Mada berperan besar dalam kesuksesan era Tribhuwana. Saat dilantik menjadi Mahapatih pada 1334, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa atau Amukti Palapa.

Gajah Mada mengikrarkan Amukti Palapa saat pelantikannya. Sumpah itu merupakan manifestasi program politik Gajah Mada terhadap Majapahit dengan misi mempersatukan Nusantara.