Kisah Ranggalawe yang Dianggap Pemberontak di Era Raden Wijaya

Ilustrasi pertempuran Ranggalawe dan Kebo Anabrang di Sungai Tambak Beras Jombang

Akhirnya Lembu Sora pun menusuk Kebo Anabrang hingga meregang nyawa.

Kebo Anabrang dan Ranggalawe sama-sama mati di Sungai Tambak Beras dan dibanjiri darah akibat pertempuran 2 ksatria Majapahit.

Kebo Anabrang dan Ranggalawe salah satu tokoh paling berjasa untuk Majapahit. Mereka menjadi korban hasutan pejabat licik Halayuda.

Upacara kematian Ranggalawe dan Kebo Anabrang digelar sebagai penghormatan terakhir.

Jenazah Ranggalawe dan Kebo Anabrang disucikan, dibakar dan abunya dibuang ke laut.

Afifudin Khoirul Anwar dalam artikel berjudul “Rehabilitasi untuk Ranggalawe, Sang Adipati Tuban” (2020) yang dimuat di laman Institute for Javanese Islam Research menuliskan, Ranggalawe tetap dianggap menjadi pahlawan bagi Majapahit.

Raden Wijaya juga mengampuni semua anggota pasukan Ranggalawe dari Tuban yang terlibat peoerangan.

Raden Wijaya masih memberikan wewenang kepada keturunan Ranggalawe untuk memimpin Tuban.

Bagi warga Tuban, Ranggalawe bukanlah pemberontak, melainkan pahlawan.

Editor: Erwin Syahril