Kisah Ranggalawe yang Dianggap Pemberontak di Era Raden Wijaya

Ilustrasi pertempuran Ranggalawe dan Kebo Anabrang di Sungai Tambak Beras Jombang
Ilustrasi Lembu Sora menasehati keponakannya, Ranggalawe agar memohon maaf kepada raja Raden Wijaya. (Gambar: Jagad Mandala) 

Namun, Ranggalawe tak puas karena merasa ia seharusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi.

Ia merasa posisi rakryan patih seharusnya diserahkan ke dirinya atau ke Lembu Sora yang dinilai jauh lebih berjasa dibanding Nambi.

Ranggalawe merasa dirinya dan pamannya Lembu Sora, lebih pantas untuk jabatan paling tinggi di struktur pemerintahan kerajaan di bawah raja.

Protes Inilah yang berbuntut pemberontakan Ranggalawe di awal berdirinya negara Wilwatikta (nama lain Majapahit).

Ranggalawe menganggap dirinya lebih gagah berani dibanding Nambi. Dia juga merasa lebih berperan membantu Raden Wijaya saat mendirikan Majapahit.

Ranggalawe menilai jasa-jasa selama perjuangan harus dipertimbangkan dalam pengangkatan pejabat tinggi. Ranggalawe beranggapan, ketika mengangkat Nambi, Raden Wijaya sedang khilaf.

Nambi yang mendengar ucapan Ranggalawe hanya menahan diri. Menurutnya, tak pantas beradu mulut dihadapan sang prabu.

Ranggalawe terus saja memprotes. Ia membandingkan pengorbanannya dengan sang paman, Lembu Sora yang telah berani bertaruh jiwa saat menghadapi tentara Mongol.

Menurut Ranggalawe, tanpa dirinya dan Lembu Sora, Majapahit sudah hancur.

Ranggalawe mengungkit pengorbanannya yang kala itu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang berkat berkolaborasi dengan pasukan Mongol di Jawa.

Mengenal 6 Istri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit