
Saat itu Kaisar Mongol, Khubilai Khan mengirim pasukan ke Jawa menyerang Singasari yang ternyata telah dikuasai Jayakatwang.
Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya bersama para sahabatnya itu termasuk Ranggalawe menyerang balik pasukan Mongol dan menghancurkan mereka.
Tak lama setelah kemenangan itu. Raden Wijaya mendeklarasikan diri sebagai Raja Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Mendengar ucapan Ranggalawe, Kebo Anabrang tak kuasa menahan diri, ia tak terima ucapan Ranggalawe dan menantangnya untuk bertarung.
Lembu Sora ternyata tak setuju dengan pikiran Ranggalawe, karena Sora lebih mematuhi perintah raja.
Sebagai paman, Lembu Sora pun menasihati keponakannya itu agar memohon maaf kepada raja. Namun, Ranggalawe menolak dan memilih pulang ke Tuban.
Pengarang Kidung Ranggalawe yang anonim menggambarkan Ranggalawe berwatak kasar.
Perangainya yang buruk itu pula kerap mengompori perseteruan dengan Majapahit.
Menurut sejarawan Slamet Muljana, kritik Ranggalawe terhadap Nambi menyinggung kepribadian sang prabu. “Pemberontakan Lawe dengan begitu adalah akibat dari kritiknya,” tulisnya dalam judul Menuju Puncak Kemegahan.
Dalam hal penunjukan jabatan, tentu Raden Wijaya punya pertimbangan sendiri. Seperti yang ditulis pada Kitab Nawanatya tentang kewajiban pejabat istana dan syarat yang harus dipenuhi untuk dapat diangkat dalam jabatan tertentu.
Seperti jabatan mahapatih amangkubhumi. Tidak hanya harus gagah berani dalam peperangan.




















