
Inajati Adrisijanti dalam Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012) menuliskan, Raden Wijaya membuka hutan tarik di tepi Sungai Brantas, sekitar Mojokerto.
Desa itu berkembang pesat dan pada 1293, Raden Wijaya mendeklarasikan diri sebagai Raja Majapahit. Pusat pemerintahannya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Perlahan memulihkan kondisi, Raden Wijaya yang pernah menjadi panglima perang di kerajaan Singasari itu, bergerilya menggalang bantuan dari sejumlah kerajaan kecil untuk persiapan menyerang balik Jayakatwang.
Pembalasan Raden Wijaya terhadap Jayakatwang bermula saat kembalinya pasukan Mongol ke Jawa yang ingin menghukum Kertanegara.
Sebelumnya, Raja Kertanegara pernah memotong telinga dan mengusir utusan Kubilai Khan Kekaisaran Mongol.
Kemarahan maharaja Kertanegara itu lantaran Kubilai Khan mencoba menaklukkan Kerajaan Singasari agar tunduk dan membayar upeti, namun ditolak tegas Kertanegara.
Raden Wijaya melancarkan tak tik dan strateginya dengan menemui pasukan Mongol dan menginformasikan kalau Kertanegara telah tewas dan Raja Singasari dipimpin oleh Jayakatwang.
Atas kecerdikannya, Raden Wijaya mengajak pasukan Mongol bergabung untuk melawan Jayakatwang yang dikira sebagai penerus Kertanegara.
Sebagai gantinya, Raden Wijaya berpura-pura berjanji akan tunduk dan membayar upeti ke Kekaisaran Mongol. Bahkan, bakal menghadiahi 2 orang Putri untuk Dinasti Yuan.
Dikisahkan Ratna Rengganis dalam Sosok di Balik Perang (2013), penyerbuan ke Daha atau Kediri dilakukan pada Maret 1293 M dan peperangan berlangsung selama belasan hari.
Permintaan dan janji Raden Wijaya disetujui pihak Mongol dan akhirnya mereka membentuk pasukan gabungan menggempur Jayakatwang.




















