Kendati begitu, kondisi saat ini masih terjadi gangguan di 2 pembangkit besar yang waktunya secara bersamaan yaitu Gas Turbin PLTGU Tanjung Uncang.
Gangguan itu menyebabkan daya mampu pembangkit berkurang sebesar 60 MW, sedangkan Gas Turbin PLTGU DEB di Panaran menyebabkan kemampuan pembangkit turun sebesar 40 MW, sehingga total kemampuan pembangkit di Batam turun sebesar 100 MW.
“Kondisi itu menyebabkan cadangan daya pembangkit sangat minim atau daya mampu pembangkit hampir sama dengan kebutuhan listrik di Pulau Batam dan Pulau Bintan,” kata Dadan.
“Mewakili manajemen PLN Batam, kami berharap masyarakat dapat mengerti kondisi PLN Batam dan mohon maaf atas ketidaknyamannannya,” sambung Dadan
Ia juga menjelaskan, untuk menghindari terjadinya pemadaman, langkah yang dilakukan bright PLN Batam adalah dengan mengoperasikan PLTD berbahan bakar HSD/MFO.
Kemudian juga meminta ke PLN Tanjung Pinang untuk mengoperasikan PLTD HSD mereka, disamping itu PLTU CTI 2×12,5 MW diharapkan dapat beroperasi secara kontinyu.
“Sebenarnya mengoperasikan PLTD HSD ini menyebabkan kerugian bagi PLN Batam, karena biaya operasi pembangkit ini sangat mahal sementara PLN Batam tidak mendapat subsidi. Tapi demi menghindari pemadaman, hal ini tetap kami lakukan,” jelasnya.






















