Gunung Anak Krakatau Naik ke Siaga Setelah 13 Kali Erupsi pada 9 Oktober 2026

Panbil Mall

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kini berstatus Level III atau Siaga setelah sebelumnya berada di Level II atau Waspada. Peningkatan status itu dipicu rangkaian aktivitas vulkanik yang pada Jumat (9/10/2026) tercatat mencapai 13 kali erupsi, dengan sebagian letusan masih berlanjut hingga malam hari. Pengumuman perubahan status disampaikan Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, pada Minggu (11/10/2026).

Suwarno menjelaskan bahwa status gunung api tersebut dinaikkan setelah pemantauan menunjukkan aktivitas yang terus muncul dalam rentang waktu singkat. Ia menegaskan perubahan itu merupakan bagian dari evaluasi resmi PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa status Gunung Anak Krakatau kini meningkat dari level waspada ke siaga.

Dari seluruh aktivitas yang terekam pada Jumat, dua erupsi pada sore hari menjadi yang paling jelas terlihat dari pos pengamatan. Letusan pertama terjadi pukul 16.17 WIB dan memunculkan kolom abu setinggi sekitar 250 meter di atas puncak. Jika dihitung dari permukaan laut, ketinggian itu setara sekitar 407 meter. Abu berwarna kelabu hingga cokelat kehitaman dan tampak tebal, lalu bergerak ke arah utara serta barat laut.

Tak lama berselang, tepat pukul 16.30 WIB, erupsi kembali terjadi. Kali ini tinggi kolom abu tercatat sekitar 150 meter dari puncak, atau sekitar 307 meter di atas permukaan laut. Sebaran material vulkanik bergerak ke utara, timur laut, dan barat. Dua kejadian ini menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif dalam waktu yang berdekatan.

Sesudah itu, letusan tidak berhenti pada sore hari. Pada malam harinya, pemantauan mencatat erupsi berulang pada pukul 18.28 WIB, 18.34 WIB, 18.35 WIB, 18.44 WIB, 18.45 WIB, 19.07 WIB, 19.10 WIB, 19.57 WIB, 21.15 WIB, 21.17 WIB, dan 21.20 WIB. Tidak seluruhnya dapat diamati langsung oleh petugas, karena beberapa kejadian hanya terekam alat pantau seismograf.

Rekaman instrumen menunjukkan variasi kekuatan dan lamanya getaran saat letusan berlangsung. Erupsi pukul 18.34 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 49 milimeter dengan durasi 36 detik. Satu menit kemudian, pada 18.35 WIB, amplitudonya meningkat menjadi 57 milimeter selama 51 detik. Pada pukul 21.17 WIB, amplitudo maksimum juga mencapai 57 milimeter dengan durasi 89 detik, sedangkan letusan pukul 21.20 WIB tercatat 43 milimeter selama 31 detik. Aktivitas serupa juga sempat terekam pada Kamis (8/10/2026) pukul 18.28 WIB.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda diminta mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait. Imbauan itu ditujukan bukan hanya kepada warga, tetapi juga nelayan dan wisatawan agar tetap memperhatikan rekomendasi keselamatan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tinggi.