Ekspor Tambang Anjlok 8,44% Gara-gara Batu Bara

Kinerja Ekspor Indonesia: Sektor Industri Menguat, Pertambangan Mengalami Tantangan

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru mengenai kinerja ekspor Indonesia hingga bulan April tahun 2026. Gambaran umum menunjukkan adanya pertumbuhan positif pada ekspor komoditas non-minyak dan gas (non-migas), yang sebagian besar didorong oleh sektor industri pengolahan. Namun, di sisi lain, sektor pertambangan dan beberapa sektor non-migas lainnya justru dihadapkan pada tren penurunan, terutama akibat melemahnya nilai ekspor batu bara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, memaparkan bahwa total nilai ekspor non-migas sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai angka signifikan sebesar US$ 87,74 miliar. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 6,28% jika dibandingkan dengan periode Januari hingga April 2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 82,56 miliar.

Sektor Industri Pengolahan Menjadi Motor Penggerak Utama

Pertumbuhan ekspor non-migas ini, menurut Pudji, sangat dipengaruhi oleh kinerja cemerlang sektor industri pengolahan. Sektor ini berhasil mencatat kenaikan nilai ekspor sebesar 9,78%, melonjak dari US$ 68,84 miliar pada periode sebelumnya menjadi US$ 75,57 miliar pada empat bulan pertama tahun 2026. Ini menunjukkan daya saing dan permintaan yang kuat terhadap produk-produk manufaktur Indonesia di pasar global.

Namun, euforia pertumbuhan di sektor industri pengolahan tidak sepenuhnya merata di seluruh sektor non-migas. Beberapa sektor lain justru menunjukkan tren yang berlawanan.

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Mengalami Penurunan Tajam

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Nilai ekspor dari sektor ini dilaporkan anjlok sedalam 26,27%. Jika pada Januari-April 2025 nilainya mencapai US$ 2,17 miliar, kini pada periode yang sama tahun 2026, nilai ekspornya hanya sebesar US$ 1,60 miliar. Penurunan ini tentu menjadi perhatian serius mengingat potensi besar sektor ini bagi perekonomian nasional.

Sektor Pertambangan Menghadapi Tekanan Akibat Harga Batu Bara

Sektor pertambangan dan lainnya juga tidak luput dari tantangan. BPS mencatat bahwa nilai ekspor dari sektor ini mengalami penurunan sebesar 8,44%. Dari US$ 11,55 miliar pada Januari-April 2025, kini turun menjadi US$ 10,58 miliar pada periode yang sama tahun 2026.

Penyumbang utama penurunan nilai ekspor di sektor pertambangan ini adalah komoditas batu bara. Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai ekspor batu bara mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar 7,27% secara tahunan, dari US$ 8,17 miliar menjadi US$ 7,57 miliar.

Penurunan nilai ekspor batu bara ini sejalan dengan menyusutnya volume ekspornya. Data menunjukkan bahwa volume ekspor batu bara berkurang 6,70% secara tahunan, dari 122,76 juta ton pada Januari-April 2025 menjadi 114,54 juta ton hingga April 2026.

Batu bara memegang peranan penting dalam kontribusi ekspor non-migas Indonesia, dengan porsi sebesar 71,55% dari total nilai ekspor non-migas dan menyumbang 8,63% terhadap total ekspor non-migas Indonesia pada periode Januari-April 2026. Komoditas ini merupakan salah satu dari tiga komoditas non-migas unggulan Indonesia, bersama dengan besi dan baja, serta Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya.

Komoditas Unggulan Lainnya Menunjukkan Kinerja Beragam

Secara keseluruhan, ketiga komoditas unggulan non-migas ini memberikan kontribusi sekitar 28,30% terhadap total ekspor non-migas Indonesia pada Januari-April 2026. Menariknya, pada periode Januari-April 2026, hanya batu bara yang mengalami penurunan ekspor di antara komoditas non-migas unggulan lainnya.

  • Besi dan Baja: Nilai ekspor besi dan baja justru menunjukkan peningkatan sebesar 2,54% secara kumulatif.
  • CPO dan Turunannya: Sektor ini juga mencatat kinerja positif dengan kenaikan nilai ekspor sebesar 16,59% secara kumulatif.
  • Batu Bara: Sebagaimana disebutkan sebelumnya, nilai ekspor batu bara mengalami penurunan sebesar 7,27% secara kumulatif.

Analisis Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, BPS juga memantau perkembangan harga batu bara di pasar internasional. Pada bulan April 2026, harga batu bara kualitas tinggi tercatat mencapai US$ 130,92 per metrik ton. Level harga ini, meskipun mencerminkan penurunan 5,54% secara bulanan, namun masih menunjukkan kenaikan yang signifikan sebesar 32,77% jika dibandingkan dengan harga pada bulan April tahun sebelumnya.

Sementara itu, harga batu bara kualitas menengah dan rendah pada April 2026 berada di kisaran US$ 94,78 per metrik ton. Harga batu bara kategori ini menunjukkan sedikit kenaikan sebesar 1,01% secara bulanan, namun mengalami penurunan tipis sebesar 0,81% secara tahunan.

Perbedaan kinerja antara sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan, khususnya batu bara, menjadi sorotan utama dalam rilis data ekspor kali ini. Diversifikasi ekspor dan peningkatan nilai tambah produk menjadi kunci penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah fluktuasi pasar komoditas global.