Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Kembali Mengintai Sumatra
Musim kemarau tahun ini kembali membawa ancaman serius bagi sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah tercatat melanda Riau, Sumatera Selatan, dan Aceh, memicu kekhawatiran akan terulangnya bencana lingkungan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memprediksi peningkatan risiko karhutla di Sumatra seiring masuknya musim kemarau pada bulan Juni. Prediksi ini terbukti akurat, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto.
“Sejak Iduladha, kami sudah melaksanakan pemadaman di Riau, sampai saat ini tim masih bekerja di TKP Kandis, Sokoi, dan Rantau Bais,” ujar Ferdian saat dihubungi. Ketiga lokasi tersebut berada di Provinsi Riau. Selain itu, hasil patroli udara juga mengidentifikasi munculnya titik api di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau. Karhutla juga dilaporkan menghanguskan sejumlah area di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, dan Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan.
Ferdian menjelaskan bahwa beberapa hari tanpa hujan dan suhu harian yang relatif panas, berkisar antara 33-34 derajat Celsius, menjadi faktor utama munculnya banyak titik panas (hotspot).
Luas Lahan Terbakar dan Sebaran Geografis yang Meluas
Analisis citra satelit menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Luas karhutla di Sumatra pada periode Januari hingga April 2026 hampir menyamai luas area karhutla pada tahun 2019. Pada periode yang sama di tahun 2019, karhutla di Sumatra tercatat mencapai 29.342,04 hektare. Sementara itu, pada periode Januari-April 2026, luas karhutla mencapai 27.908,84 hektare.
Perbedaan mencolok terlihat pada sebaran geografisnya. Jika pada tahun 2019 karhutla cenderung terkonsentrasi di Riau, diikuti oleh Kepulauan Riau, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan, kini situasinya berbeda. Karhutla dilaporkan terjadi di seluruh provinsi di Pulau Sumatra, termasuk Bengkulu, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung. Fenomena “pemerataan” sebaran karhutla ini dilaporkan telah terjadi setidaknya sejak tahun 2021.
Potensi Penguatan Fenomena Iklim El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD)
Ferdian mengungkapkan adanya potensi karhutla yang mirip dengan tahun 2019, terutama dengan adanya prediksi penguatan fenomena iklim El Nino. BMKG memprediksi El Nino akan menguat dari level lemah ke moderat pada paruh kedua tahun ini.
BMKG juga mencatat bahwa musim kemarau pada tahun 2019 merupakan salah satu yang paling kering jika dibandingkan dengan musim kemarau tahun 2018 dan acuan normal klimatologis periode 1981-2010. Kondisi kekeringan ekstrem ini memicu dampak serius pada sektor pertanian, sumber daya air, kehutanan, dan lingkungan, yang sebagian besar disebabkan oleh El Nino yang berlangsung dari September 2018 hingga Juli 2019.
Fenomena El Nino ini turut diperparah oleh anomali suhu muka laut di Samudra Hindia, yang dikenal sebagai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) plus. Pada IOD+, suhu muka laut di timur Afrika lebih hangat dibandingkan dengan suhu muka laut di barat daya Sumatra. Fenomena IOD+ ini tercatat menguat pada periode April hingga Desember 2019.
Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut, El Nino dan IOD+, menyebabkan musim kemarau pada tahun 2019 menjadi lebih panjang dan intens. Musim hujan pun dilaporkan terlambat datang, dengan 46 persen dari 342 zona musim di Indonesia mengalami musim kemarau yang sama hingga lebih panjang enam dasarian (sekitar 2 bulan) dari rata-rata normal.
Dampak Karhutla dan Kualitas Udara yang Memburuk
Kekeringan parah yang terjadi pada tahun 2019 tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga memicu memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan catatan Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi), total luas hutan dan lahan di seluruh Indonesia yang hangus pada periode tersebut mencapai sekitar 1,65 juta hektare.
Selama periode karhutla dari Agustus hingga Oktober 2019, BMKG mencatat konsentrasi debu polutan berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) di Sumatra berada pada level tinggi. Puncaknya, pada September 2019, konsentrasi PM10 di seluruh Sumatra dilaporkan melebihi ambang batas aman sebesar 150 µg/m³.
Meskipun demikian, insiden karhutla saat ini masih dianggap “lebih baik” jika dibandingkan dengan bencana serupa pada tahun 2015, ketika El Nino berada pada level yang sangat kuat. Data SiPongi menunjukkan bahwa karhutla pada tahun 2015 menghanguskan lahan seluas 2,6 juta hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Faktor Pemicu Karhutla: Cuaca Kering dan Praktik Pembukaan Lahan
Meskipun faktor cuaca kering dan fenomena iklim menjadi pemicu utama, Ferdian menekankan bahwa karhutla yang terjadi di Sumatra saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi alam. Pembukaan lahan dengan cara membakar vegetasi masih menjadi salah satu penyebab utama yang ditemukan di lapangan.
“Penyiapan lahan atau kebun dengan membakar masih menjadi kejadian pemicu kebakaran yang kami temui di lapangan, baik di Riau maupun di Sumatera Selatan,” ujar Ferdian.
Timnya terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghentikan praktik-praktik yang memicu kebakaran. Namun, upaya perubahan perilaku ini membutuhkan intensitas, konsistensi, dan waktu yang tidak sebentar.
Bersamaan dengan upaya sosialisasi, patroli darat dan udara terus ditingkatkan untuk deteksi dini. Selain itu, operasi modifikasi cuaca dan respon cepat saat terjadi karhutla juga menjadi bagian dari strategi penanggulangan yang dijalankan.














