JAKARTA — Tiga perspektif berbeda yang sama-sama mengkhawatirkan. Satu dari Moskow, satu dari Warsawa, satu dari London. Ketiganya menyampaikan pesan yang serupa: Eropa sedang mengalami perubahan yang cepat dan tidak terduga, dan tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arahnya.
Dari sisi pertama, Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, mantan presiden, dan salah satu suara paling keras di Kremlin, menulis panjang lebar di Russia Today pada 7 Mei 2026. Tulisannya penuh dengan tuduhan dan kecurigaan terhadap arah politik Berlin saat ini. Ia menyebut bahwa ancaman Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari NATO, yang diungkapkan pada 27 Maret 2026 di sebuah forum investasi di Miami, telah mempercepat apa yang ia sebut sebagai “perpecahan terbesar antara Eropa dan Amerika dalam seratus tahun terakhir.” Bagi Medvedev, celah itu kini dimanfaatkan Jerman untuk memperluas pengaruhnya di Eropa.
“Arah politik saat ini dapat mengarah pada skenario yang hampir mengerikan,” tulis Medvedev. “Ini menunjukkan upaya untuk mewujudkan sentimen revanchis tergelap dari elite Jerman.”
Medvedev menyebut bahwa Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz sedang menjalani militerisasi besar-besaran yang, menurutnya, bukan sekadar respons terhadap ancaman Rusia, melainkan bagian dari ambisi geopolitik yang lebih dalam. Ia mencatat sejumlah angka yang sulit dibantah: pengeluaran militer Jerman pada 2024 mencapai 88,5 miliar dolar Amerika, naik 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan Jerman sebagai negara dengan anggaran pertahanan terbesar di Eropa. Dalam anggaran 2026, Jerman berencana menggelontorkan lebih dari 108 miliar euro untuk keperluan pertahanan.
Medvedev juga menyoroti rencana Jerman untuk meningkatkan kekuatan Bundeswehr dari 181.000 menjadi 460.000 personel aktif dan cadangan, serta pengerahan Brigade Lapis Baja ke-45 Bundeswehr di Lithuania, yang disebutnya sebagai “pengerahan pertama pasukan reguler Jerman di luar wilayah Jerman sejak Perang Dunia II.”
“Jika skenario terburuk terjadi, kemungkinan besar setidaknya akan terjadi kehancuran bersama, dan, pada kenyataannya, berakhirnya peradaban Eropa,” tulis Medvedev dengan nada yang tidak menyembunyikan ancaman.
Bagi Medvedev, kebangkitan militer Jerman bukan fenomena baru. Ia menelusuri akar sejarahnya jauh ke belakang, ke era pascaperang ketika, menurutnya, denazifikasi Jerman Barat tidak pernah benar-benar tuntas. Ia mengutip data bahwa dari tahun 1949 hingga 1973, 90 dari 170 pengacara dan hakim terkemuka di Kementerian Kehakiman Jerman Barat adalah mantan anggota Partai Nazi. Pada 1957, 77 persen pejabat senior kementerian memiliki masa lalu Nazi. “Republik Federal Jerman tidak mengalami denazifikasi yang sesungguhnya,” tegas Medvedev.
Ia menutup tulisannya dengan peringatan yang terdengar seperti ultimatum: “Bagi Berlin, hanya ada dua pilihan yang tersisa. Pilihan pertama adalah perang dan penguburan kenegaraan yang memalukan. Pilihan kedua adalah kembali ke ketenangan dan pemulihan geopolitik melalui dialog yang sulit tetapi sangat diperlukan.”
Sementara Medvedev berbicara tentang bahaya kebangkitan Jerman, Badan Keamanan Dalam Negeri Polandia (ABW) justru sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih nyata dan langsung: operasi sabotase Rusia yang semakin canggih di dalam wilayah Eropa. Laporan ABW yang diterbitkan pada 6 Mei 2026 menyampaikan sesuatu yang mengejutkan: dalam dua tahun terakhir, Polandia telah melakukan penyelidikan spionase sebanyak yang dilakukannya selama tiga dekade sebelumnya. Sebanyak 62 orang telah ditangkap. Pada 2024 dan 2025, sebanyak 69 investigasi spionase dimulai, jumlah yang sama dengan total investigasi antara 1991 dan 2023.
“Tujuan jangka panjang Federasi Rusia tetaplah disintegrasi struktur Euro-Atlantik, isolasi negara-negara tertentu, dan destabilisasi sosial-politik serta ekonomi internal mereka,” demikian pernyataan dalam laporan ABW.
Yang paling mengkhawatirkan, menurut ABW, adalah perubahan cara Rusia menjalankan operasinya. Jika sebelumnya Moskow mengandalkan agen-agen murah yang direkrut secara daring, orang-orang biasa yang bahkan kadang tidak sadar sedang bekerja untuk intelijen Rusia, kini Rusia mulai beralih ke model yang jauh lebih berbahaya. “Dinas-dinas Rusia kini lebih menekankan pada pembentukan sel-sel sabotase kompleks yang mengandalkan struktur tertutup kejahatan terorganisir,” catat laporan ABW. “Rusia lebih menyukai individu yang berpengalaman dalam penegakan hukum, misalnya, mantan tentara, petugas polisi, tentara bayaran dari Grup Wagner.”
Perubahan ini bukan sekadar perkembangan taktis. Ini adalah sinyal bahwa Rusia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih serius dan lebih terencana di Eropa. ABW bahkan mencatat bahwa dinas-dinas intelijen Rusia kini mengintensifkan pelatihan di dalam wilayah Rusia sendiri, dengan tujuan “mempersiapkan agen secara profesional untuk kegiatan terorisme.”
Pada November 2025, Polandia merasakan langsung eskalasi ini ketika serangkaian ledakan menghantam jalur kereta api yang digunakan untuk pengiriman senjata ke Ukraina. Perdana Menteri Donald Tusk menyebutnya sebagai “tindakan sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Di tengah dua narasi yang penuh ketegangan itu, Hugo Dixon di Reuters menawarkan perspektif yang lebih dingin dan analitis. Tulisannya pada 6 Mei 2026 bukan tentang tuduhan atau kecurigaan, melainkan tentang kenyataan geopolitik yang harus dihadapi Eropa dengan kepala jernih. Dixon memulai dari satu pertanyaan sederhana namun berat: apa yang akan terjadi jika Amerika Serikat benar-benar melonggarkan, atau bahkan melepaskan, komitmennya terhadap NATO?
Jawabannya tidak menyenangkan. “Eropa akan sangat terekspos terhadap ancaman Rusia,” tulis Dixon. “Ketergantungan Eropa pada Amerika Serikat kini terlihat semakin berisiko.”
Dia menjelaskan bahwa selama puluhan tahun, NATO bukan sekadar aliansi militer biasa. NATO adalah struktur keamanan yang dibangun di atas satu fondasi utama: kekuatan militer Amerika Serikat. “Amerika Serikat menyediakan sebagian besar kemampuan militer NATO,” tulisnya, mulai dari perlindungan nuklir, jaringan intelijen, logistik strategis, hingga teknologi pertahanan mutakhir.
Eropa, selama puluhan tahun menikmati perlindungan itu, memilih untuk tidak terlalu banyak berinvestasi di pertahanan sendiri. Uangnya dialirkan ke kesejahteraan, pendidikan, dan infrastruktur. Hasilnya adalah negara-negara dengan standar hidup tinggi, tetapi dengan kemampuan pertahanan mandiri yang terbatas.
Kini, ketika Washington mulai memperlihatkan tanda-tanda ingin mengurangi keterlibatannya, Eropa menghadapi tagihan yang selama ini ditunda. “Uni Eropa perlu meningkatkan pengeluaran pertahanannya secara drastis,” tegas Dixon. Namun ia juga menyadari bahwa peningkatan anggaran saja tidak cukup. Eropa membutuhkan integrasi pertahanan yang jauh lebih dalam, termasuk kemungkinan mekanisme pembiayaan bersama antarnegara anggota. “Eropa mungkin perlu mempertimbangkan bentuk baru pembiayaan bersama untuk pertahanan,” tulisnya.
Dixon juga mencatat perubahan psikologi yang sedang terjadi di Eropa. Ancaman Rusia, yang selama beberapa dekade terasa jauh dan abstrak bagi banyak negara Eropa Barat, kini terasa nyata dan mendesak. “Ancaman Rusia telah mengubah perdebatan politik di Eropa,” tulisnya. Negara-negara yang dulu sangat berhati-hati terhadap segala hal berbau militer kini mulai berbicara terbuka tentang senjata, rudal, dan perlindungan nuklir.
Titik Temu Tiga Suara yang Berbeda
Medvedev, ABW Polandia, dan Dixon datang dari sudut pandang yang sangat berbeda. Medvedev berbicara sebagai pejabat Kremlin yang memandang Jerman sebagai ancaman. ABW berbicara sebagai lembaga keamanan yang sedang menghadapi serangan nyata di lapangan. Dixon berbicara sebagai analis Barat yang mencoba memetakan masa depan arsitektur keamanan Eropa.
Namun ketiganya bertemu di satu kesimpulan yang sama: tatanan keamanan Eropa yang lama sudah tidak bisa dipertahankan. Jika Medvedev melihat kebangkitan militer Jerman sebagai ancaman bagi Rusia, Dixon melihatnya sebagai keharusan bagi Eropa yang ditinggal Amerika. Jika ABW Polandia memperingatkan bahwa Rusia semakin agresif di dalam Eropa, Dixon mengingatkan bahwa Eropa belum cukup siap untuk menghadapi agresivitas itu tanpa bantuan Amerika.
Di sinilah letak paradoks terbesar yang sedang dihadapi Eropa hari ini. Benua yang selama hampir delapan dekade membangun identitasnya di atas diplomasi, multilateralisme, dan kesejahteraan kini dipaksa kembali ke bahasa yang paling tua dalam sejarah manusia: kekuatan militer. Dan ironisnya, semua itu terjadi justru ketika pelindung utamanya selama puluhan tahun, Amerika Serikat, mulai menunjukkan tanda-tanda ingin berbalik arah.
Eropa, dengan kata lain, sedang dipaksa dewasa di saat yang paling tidak menguntungkan.
Apa Artinya Semua Ini?
Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa geopolitik, semua ini mungkin terasa seperti perdebatan antarnegara yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Tetapi dampaknya sangat nyata.
Ketika Jerman menggelontorkan ratusan miliar euro untuk senjata, uang itu diambil dari anggaran yang tadinya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Ketika Rusia mengirimkan sel-sel sabotase ke Polandia dan negara-negara Eropa lainnya, yang menjadi sasaran bukan hanya infrastruktur militer, tetapi jalur kereta api sipil, jaringan listrik, dan fasilitas umum yang digunakan jutaan warga biasa setiap harinya.
Ketika Amerika Serikat mulai mempertimbangkan untuk mengurangi komitmennya di Eropa, yang berubah bukan hanya kalkulasi militer para jenderal, melainkan rasa aman jutaan orang yang selama puluhan tahun hidup di bawah payung perlindungan yang kini mulai bocor.
Tiga penulis, tiga sudut pandang, satu kesimpulan: Eropa sedang memasuki era yang belum pernah dihadapinya sejak 1945. Dan kali ini, tidak ada jaminan bahwa cerita ini akan berakhir dengan damai.






















