MALANG — Penggunaan bahan bakar B50 memiliki potensi dampak terhadap performa mesin dan kebutuhan perawatan kendaraan, khususnya pada mesin diesel lama yang belum dirancang untuk mengolah biodiesel dengan konsentrasi tinggi.
Prof. Nurkholis Hamidi, Guru Besar Bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels di Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa penerapan B50 merupakan langkah positif dalam upaya mengurangi ketergantungan impor BBM, mendukung hilirisasi kelapa sawit nasional, serta menekan emisi karbon. Namun, ia menekankan bahwa implementasinya harus dilakukan secara bertahap dan terukur.
B50 adalah campuran bahan bakar yang terdiri dari 50% biodiesel (biasanya berbasis Fatty Acid Methyl Ester dari minyak sawit) dan 50% solar (bahan bakar diesel fosil). Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Dengan penggunaannya, ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat dikurangi.
Namun, biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan solar. Kandungan oksigen dalam biodiesel dapat meningkatkan proses pembakaran, tetapi juga memiliki viskositas yang lebih tinggi. Hal ini dapat memengaruhi proses penyemprotan bahan bakar di dalam mesin, sehingga kualitas pembakaran bisa menurun jika sistem injeksi tidak disesuaikan.
Kendaraan modern, menurut Prof. Nurkholis, relatif siap menggunakan biodiesel dengan konsentrasi tinggi, asalkan spesifikasi bahan bakar sesuai standar. Namun, penggunaan pada mesin lama mungkin menyebabkan penurunan umur komponen tertentu seperti seal dan hose, serta pembentukan deposit yang lebih cepat. Selain itu, risiko penyumbatan filter bahan bakar juga meningkat karena sifat higroskopis biodiesel yang dapat menyerap air dan melarutkan kotoran di tangki.
“Biodiesel bersifat lebih polar dibanding solar biasa, sehingga bisa melarutkan komponen aditif dalam karet. Hal ini membuat karet kehilangan fleksibilitas, menjadi getas, dan mudah retak,” jelasnya. Pada kendaraan baru, sistem saluran bahan bakar dan seal biasanya sudah dirancang tahan terhadap biodiesel.
Dari segi performa, penggunaan B50 juga berpotensi memengaruhi unjuk kerja mesin. Meskipun biodiesel memiliki oksigen alami yang memperbaiki proses pembakaran, mengurangi emisi CO dan HC, namun nilai kalornya lebih rendah dibandingkan solar. Akibatnya, tenaga mesin sedikit turun, torsi bisa berkurang, dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.
“Untuk menghasilkan tenaga yang sama, bahan bakar yang dibutuhkan bisa lebih banyak. Jadi ada kemungkinan terasa lebih boros,” ujar Prof. Nurkholis.
Penggunaan biodiesel juga berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan perawatan kendaraan. Sifat biodiesel yang mampu melarutkan kotoran di dalam tangki dan proses produksi yang kurang bersih berpotensi menyumbat filter dan saluran bahan bakar. Pemilik kendaraan perlu melakukan pembersihan atau penggantian filter lebih rutin serta pemeriksaan pada sistem injeksi.
“Filter bahan bakar harus lebih sering dibersihkan atau diganti karena potensi penyumbatan lebih besar,” pesannya.
Selain itu, nozzle atau saluran injeksi juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak terjadi gangguan aliran bahan bakar.
Tantangan utama dalam implementasi B50 adalah aplikasinya ke mesin-mesin yang selama ini digunakan. Beberapa mesin lama tidak dirancang untuk penggunaan biodiesel konsentrasi tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengawasi proses produksi biodiesel agar spesifikasi bahan bakar sesuai standar.
Meskipun demikian, Prof. Nurkholis menekankan bahwa pengembangan biodiesel memiliki prospek yang bagus, terutama bagi Indonesia yang merupakan negara tropis dengan sumber minyak nabati yang cukup besar.






















