Kolonialisme dalam Dua Dunia: Animal Farm vs. Bumi Manusia

Panbil Mall

Revolusi, sebuah kata yang selalu sarat dengan janji kemakmuran dan keadilan, kerap kali hadir dengan narasi pembebasan yang memikat. Pernah ada keyakinan yang teguh bahwa ketika tirani tumbang, keadilan akan serta-merta bersemi. Namun, sejarah dan karya sastra berulang kali membisikkan peringatan: tidak semua revolusi berujung pada kemerdekaan sejati, dan tidak semua pahlawan pembebas mampu menolak godaan untuk menjadi penindas baru.

Kegelisahan mendalam inilah yang menyatukan dua karya sastra monumental dari latar belakang budaya yang berbeda: Animal Farm (1945) karya George Orwell dan Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer. Kedua novel ini, meskipun berasal dari tradisi sastra yang berbeda, memiliki kesamaan fundamental dalam kecurigaan mereka terhadap kekuasaan yang bersembunyi di balik kedok aspirasi rakyat, namun pada akhirnya justru membungkam suara-suara rakyat itu sendiri. Ketika dibaca melalui lensa pendekatan pascakolonial, kedua karya ini membuka ruang refleksi yang kaya tentang bagaimana dinamika dominasi dan perlawanan terus bekerja, bahkan setelah kekuatan kolonial atau penguasa lama berhasil disingkirkan.

Memahami Pascakolonialisme dalam Sastra

Pascakolonialisme, sebagai sebuah kerangka analisis, berangkat dari kesadaran bahwa dampak kolonialisme tidak serta-merta berakhir dengan dicabutnya kekuasaan fisik penjajah. Jejaknya bertahan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari penggunaan bahasa, sistem hukum, kurikulum pendidikan, hingga cara berpikir masyarakat. Edward Said, seorang tokoh sentral dalam studi pascakolonial, memperkenalkan konsep “kekuasaan wacana” (power of discourse). Ini adalah mekanisme halus yang menentukan siapa yang memiliki otoritas untuk berbicara, siapa yang suaranya dianggap penting, dan siapa yang hanya dianggap patuh untuk didengarkan.

Dalam ranah sastra bandingan, pendekatan pascakolonial menawarkan alat yang ampuh untuk mengidentifikasi pola-pola dominasi yang berulang lintas konteks budaya dan sejarah. Namun, penting untuk menggunakan pendekatan ini dengan kehati-hatian, agar tidak menyederhanakan kompleksitas sejarah dan pengalaman manusia.

Animal Farm: Kolonialisme dari Dalam

Novel Animal Farm karya George Orwell, yang selama ini kerap diinterpretasikan sebagai satire tajam terhadap Revolusi Rusia, dapat dilihat dari perspektif pascakolonial sebagai penggambaran kolonialisme yang terjadi dari dalam. Memang benar bahwa Tuan Jones, sang tuan tanah yang represif, berhasil diusir oleh para hewan. Namun, kekuasaan yang seharusnya beralih ke seluruh hewan justru terkonsentrasi pada sekelompok babi yang menjadi elit baru. Kelompok ini, dengan cerdik, menguasai bahasa, memanipulasi hukum, dan mengontrol ingatan kolektif. Slogan-slogan revolusioner yang menjanjikan kesetaraan perlahan-lahan ditulis ulang, sejarah dimanipulasi untuk kepentingan mereka, dan setiap bentuk kritik dibungkam melalui propaganda yang efektif.

Karakter Boxer, kuda pekerja yang tanpa lelah dan setia, menjadi lambang paling jelas dari kaum subaltern—mereka yang tertindas dan tidak memiliki suara. Boxer bekerja tanpa henti, percaya tanpa bertanya, dan pada akhirnya dibuang ketika tenaganya sudah tidak lagi dibutuhkan. Dalam dunia Animal Farm yang diciptakan Orwell, kaum yang tertindas tidak memiliki sarana atau bahasa untuk melawan. Revolusi yang seharusnya membebaskan justru berakhir sebagai pengulangan siklus kekuasaan lama, hanya saja dengan wajah yang berbeda.

Bumi Manusia: Kesadaran Melawan Dominasi

Berbeda dengan Orwell yang menyajikan ironi pahit, Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia memilih jalur kesadaran sebagai fondasi perlawanan. Novel ini tidak hanya sekadar merekam kebrutalan kolonialisme Belanda, tetapi juga secara mendalam membedah bagaimana kolonialisme bekerja melalui instrumen pengetahuan dan hukum. Minke, sang tokoh utama, hidup di persimpangan dua dunia: dunia pribumi yang sarat tradisi dan dunia Eropa yang sarat modernitas. Pendidikan Barat memberikannya kemampuan berpikir kritis dan bahasa untuk artikulasi, namun di saat yang sama, ia terus-menerus dihadapkan pada batas-batas rasial yang sulit ditembus.

Sosok Nyai Ontosoroh tampil sebagai pusat etika dan kekuatan moral dalam cerita. Meskipun tidak memiliki status hukum formal dan pengakuan sosial yang memadai, ia justru menjelma menjadi subjek yang paling rasional, berani, dan berdaya. Pramoedya dengan sengaja memberi ruang bagi suara-suara yang kerap kali diabaikan atau dihapus dari narasi sejarah resmi: suara perempuan, suara pribumi, dan suara mereka yang selama ini hanya menjadi catatan kaki dalam catatan sejarah kolonial.

Benang Merah Kecurigaan dan Harapan

Ketika kedua karya sastra ini dibaca berdampingan, terlihat benang merah yang kuat dalam kecurigaan mereka terhadap segala bentuk kekuasaan yang mengklaim diri sebagai penyelamat. Namun, di sinilah perbedaan krusial mereka muncul. Orwell menutup Animal Farm dengan kepahitan ironi, di mana tidak ada lagi ruang bagi suara kaum subaltern. Sebaliknya, Pramoedya dalam Bumi Manusia masih menyisakan secercah harapan. Harapan itu terletak pada kekuatan pendidikan, kekuatan tulisan, dan pentingnya kesadaran historis sebagai alat perlawanan.

Pendekatan pascakolonial membantu kita melihat keterkaitan tematik ini, namun juga mengingatkan kita pada batasan-batasannya. Tidak semua ketimpangan sosial dan ekonomi dapat disamakan dengan kolonialisme klasik, dan tidak semua bentuk perlawanan memiliki manifestasi yang sama. Teori seharusnya berfungsi sebagai alat bantu untuk mendengarkan suara otentik dari teks, bukan untuk menenggelamkannya dalam kerangka teoritis yang kaku.

Membaca kedua karya ini terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kita hidup di tengah janji-janji perubahan yang terus berganti istilah, sementara bahasa kekuasaan semakin halus, persuasif, dan memikat. Dari George Orwell, kita belajar tentang bahaya laten dari berhenti bertanya dan meragukan. Dari Pramoedya Ananta Toer, kita menemukan bahwa membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, namun paling gigih dan berkelanjutan. Sastra mungkin tidak mampu mengubah dunia secara instan, tetapi ia mengajarkan kepada kita keberanian untuk terus curiga, terus berpikir kritis, dan terus mencari kebenaran di balik narasi yang disajikan.