Netanyahu Perintahkan Serangan Dahsyat ke Gaza, Gencatan Senjata Terancam Lagi

Serangan Dahsyat ke Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara selama konferensi pers dengan Presiden Donald Trump di Ruang Makan Negara Gedung Putih, Senin, 29 September 2025, di Washington. (Foto AP/Alex Brandon.

Patrolmedia, Tel Aviv – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukan Zionis melancarkan serangan dahsyat ke Gaza.

Perintah itu dikeluarkan Netanyahu pada Selasa (28/10/2025).

Melansir Huffpost, Rabu (29/10/2025), instruksi Netanyahu berpotensi meningkatkan ketegangan Israel dan Hamas.

Tindakan Israel bakal memicu terancamnya gencatan senjata yang baru saja diberlakukan 10 Oktober 2025.

Perintah serangan dahsyat ke Gaza ini muncul setelah Israel menuduh Hamas menembaki pasukan di Gaza selatan.

Situasi kian memanas saat Hamas menyerahkan sejumlah jenazah yang diklaim Israel sebagai sandera yang tewas dalam perang sebelumnya.

Netanyahu menyebut pemulangan jenazah itu sebagai “pelanggaran nyata” terhadap perjanjian gencatan senjata.

Israel mewajibkan Hamas segera mengembalikan seluruh sisa sandera Israel.

Baku Tembak di Rafah

Ketegangan makin terasa di lapangan. Pasukan Israel dilaporkan ditembaki di Kota Rafah, Gaza selatan, dan membalas tembakan.

Seorang pejabat militer Israel yang enggan disebut namanya mengatakan, insiden baku tembak menunjukkan rapuhnya gencatan senjata.

Menurut Pejabat Kesehatan Setempat, pada 19 Oktober, 2 tentara Israel tewas akibat tembakan Hamas.

Israel membalas dengan serangkaian serangan yang menewaskan 40 warga sipil Palestina.

Pekan lalu, Israel melancarkan serangan udara di Gaza dengan dalih menargetkan kelompok Jihad Islam yang katanya mau merencanakan serangan baru. Beberapa warga sipil dilaporkan terluka.

Masalah Pemulangan Jenazah Sandera

Hingga kini, masih ada 13 jenazah sandera yang belum dikembalikan Hamas. Padahal, Hama sudah mengaku pihaknya kesulitan menemukan jenazah di tengah reruntuhan Gaza. Namun, Israel ngeyel malah menuduh Hamas sengaja menunda penyerahan.

Mesir bahkan mengirim tim ahli dan alat berat membantu pencarian di Khan Younis dan Nuseirat.

Seorang jurnalis Associated Press di Khan Younis melaporkan terlihat sebuah kantong jenazah dibawa keluar dari terowongan oleh beberapa militan bertopeng, namun belum dipastikan isinya.

Lambatnya pemulangan jenazah sandera dinilai menghambat tahap berikutnya dari perundingan gencatan senjata.

Kasus Ofir Tzarfati: Keluarga Harus Kubur Anaknya 3 Kali

Kantor Netanyahu mengonfirmasi, salah satu jenazah yang dikembalikan Hamas adalah Ofir Tzarfati, sandera yang diculik dari festival musik Nova saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Tzarfati tewas dalam tawanan dan jenazahnya sempat ditemukan pasukan Israel pada November 2023.

Namun, keluarga korban menyatakan bahwa mereka 3 kali harus membuka dan mengubur kembali makam putranya karena pengembalian jenazah yang tidak akurat.

Sejak gencatan senjata dimulai, Hamas telah menyerahkan 15 jenazah sandera tewas kepada Israel. Sebagai imbalannya, Israel mengembalikan 195 jenazah warga Palestina ke Gaza.

Selain itu, 20 sandera hidup juga telah dipulangkan ke Israel, dan Israel membebaskan sekitar 2 ribu tahanan Palestina.

Serangan di Tepi Barat

Sementara itu, di Tepi Barat, militer Israel mngklaim menewaskan 3 militan Palestina dalam operasi di dekat Kota Jenin, Selasa pagi.

Polisi Israel menyebut ketiganya ditembak saat keluar dari sebuah gua yang digunakan untuk aktivitas militer.

2 militan tewas di lokasi, sementara 1 ainnya yang terluka meninggal tak lama kemudian. Israel lalu meluncurkan serangan udara untuk menghancurkan gua tersebut.

Hamas mengonfirmasi dua dari tiga korban merupakan anggota Brigade Qassam, sayap militer Hamas.

68.500 Warga Sipil Palestina Tewas Diserang Israel 

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, lebih dari 68.500 warga Palestina tewas diserang Israel sejak perang 2 tahun terakhir.

Angka ini mencakup warga sipil dan militan, dan diakui keakuratannya oleh badan-badan PBB.

Israel tak mengakui dan menolak angka tersebut, tetapi tak mampu memberikan data korban dari pihaknya.

 

(Ipl/Ft)