Konglomerat batu bara, Low Tuck Kwong, memperluas sayap bisnisnya ke sektor properti. Ekspansi ini dilakukan melalui PT Samindo Resources Tbk (MYOH), perusahaan jasa pertambangan batu baranya.
Langkah diversifikasi ini diwujudkan dengan pembentukan anak perusahaan baru bernama PT Sentra Terra Indonesia, hasil kolaborasi antara MYOH dan PT Trasindo Murni Perkasa. PT Sentra Terra Indonesia akan fokus pada pengembangan bisnis properti dan sektor-sektor pendukungnya.
Ahmad Zaki Natsir, Corporate Secretary MYOH, menjelaskan bahwa PT Sentra Terra Indonesia secara resmi didirikan pada tanggal 23 Januari 2026. Pendirian ini telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan nomor AHU-0006175.AH.01.01.TAHUN 2026 pada tanggal yang sama.
Menurut Ahmad, entitas baru ini akan bergerak dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk:
- Real Estat: Pengembangan dan pengelolaan properti residensial, komersial, dan industrial.
- Konstruksi: Pembangunan berbagai jenis bangunan dan infrastruktur.
- Penyediaan Makanan dan Minuman: Pengelolaan restoran, kafe, dan bisnis kuliner lainnya.
- Aktivitas Penunjang Lainnya: Berbagai layanan pendukung yang terkait dengan sektor properti dan bisnis lainnya.
Dari segi kepemilikan saham, MYOH memegang mayoritas saham PT Sentra Terra Indonesia, yaitu sebanyak 2.697.300 lembar saham, setara dengan 99,9% dari total saham yang beredar. Sementara itu, PT Trasindo Murni Perkasa memiliki 2.700 lembar saham atau sekitar 0,1%.
“Pendirian STI akan memberikan dampak positif bagi perkembangan bisnis perseroan, khususnya dalam diversifikasi usaha di bidang properti dan penunjang lainnya,” ungkap Ahmad dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebagai informasi tambahan, MYOH adalah entitas bisnis milik Low Tuck Kwong yang bergerak di bidang investasi jasa penambangan batu bara dan pertambangan. Low Tuck Kwong sendiri tercatat sebagai pemegang saham mayoritas MYOH, dengan kepemilikan sebesar 312,78 juta saham atau setara dengan 14,18% dari saham yang beredar.
Selain Low Tuck Kwong, St International Corporation tercatat sebagai pengendali MYOH dengan kepemilikan sebanyak 1,30 miliar saham atau setara dengan 59,03%. Sementara itu, publik memiliki sebanyak 26,79% saham MYOH.
Sebelumnya, hingga kuartal ketiga 2025, MYOH mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 37,67% menjadi US$ 11,35 juta (setara dengan Rp 189,51 miliar) dari US$ 18,21 juta secara tahunan.
Penurunan laba bersih MYOH disebabkan oleh penurunan pendapatan perseroan sepanjang periode Januari – September 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan menurun dari US$ 135,62 juta menjadi US$ 122,19 juta secara year-on-year (yoy).
Berikut rincian pendapatan MYOH berdasarkan jenis jasa:
- Jasa Pemindahan Tanah dan Pengambilan Batu Bara: US$ 65,55 juta.
- Jasa Pengangkutan Batu Bara: US$ 31,57 juta.
- Jasa Penyewaan Kendaraan dan Layanan Lainnya: US$ 23,60 juta.
- Jasa Pengeboran, Eksplorasi, dan Lainnya: US$ 1,46 juta.
Di sisi lain, MYOH berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi US$ 100,57 juta dari US$ 104,84 juta secara tahunan.






















