Kehidupan Zainab dan Zahro di Tengah Perubahan Digital
Di kota Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, saat jam masih menunjukkan pukul lima pagi, dua wanita paruh baya sudah berdiri di sudut simpang empat lampu merah Pelabuhan Sungailiat. Mereka adalah Zainab dan Zahro, yang telah menjalani profesi penjual koran selama bertahun-tahun.
Zainab, dengan tangan kiri menggenggam koran Bangka Pos, dan tangan kanannya dengan gerakan terlatih menyodorkan koran kepada pengendara kendaraan yang berhenti. Di sampingnya, Zahro melakukan hal yang sama. Bagi mereka, terik matahari pagi bukanlah hambatan, melainkan bagian dari kesetiaan pada profesi yang semakin langka.
Dua puluh tahun lalu, Zainab pertama kali mulai menjual koran. Saat itu, internet belum sepopuler sekarang, dan koran menjadi jendela utama dunia bagi banyak orang. Ia memperoleh penghasilan yang cukup dari penjualan koran tersebut. “Dulu, setiap hari bawa 100 koran dan habis semua tanpa sisa,” kenang Zainab.
Namun, zaman terus berubah. Teknologi digital muncul sebagai aliran yang menggeser peran koran cetak. Pelanggan setianya mulai beralih ke informasi digital. Akibatnya, tumpukan koran Zainab semakin sedikit. Kini, ia hanya membawa 25 eksemplar koran, turun drastis dari 100 eksemplar sebelumnya. Penurunan ini memberikan dampak signifikan pada kehidupan keluarganya.
Zainab tinggal bersama saudaranya dan harus menghidupi tiga orang anak. Meski demikian, ia tidak pernah merutuki nasib. “Ya beguyur bae (saja) sekarang ini, walaupun sedikit tapi cukup untuk duit jajan. Kan waktunya tidak lama, jualan mulai setengah enam pagi dan pulang jam sembilan pagi,” ujarnya.
Kehidupan Zainab tidak sendirian. Empat belas tahun lalu, Zahro memutuskan ikut jejak sang kakak setelah mereka merantau dari Palembang dan menetap di Kota Sungailiat. Zahro juga mengalami kepedihan yang sama. Dari 25 koran yang dibawanya, sering kali tidak habis dan terpaksa dibawa pulang.
Namun, menyerah bukanlah sifat mereka. Zahro mencoba memutar otak untuk menyambung hidup. Ia membagi harinya menjadi dua paruh waktu. Paruh pagi digunakan untuk menjajakan koran di Simpang Empat Pelabuhan, sedangkan paruh siang ia ganti peran menjadi penjual es di rumah.
“Selesai jualan koran kan jam 9, nanti lanjut jualan es di rumah dan Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Zahro dengan rasa syukur.
Zainab dan Zahro adalah contoh nyata dari para pekerja media cetak yang bertahan di tengah gempuran digital. Bagi mereka, 25 eksemplar koran bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol harga diri dan usaha yang halal.
Di tengah deru peradaban yang semakin digital dan instan, semangat kedua wanita paruh baya ini tetap abadi. Mereka tidak pernah menyerah dan terus berjuang meskipun kondisi semakin sulit. Ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, mereka kembali berjalan mendekati kendaraan. Ketika lampu berubah hijau, mereka menepi dengan sabar.
Kehidupan Zainab dan Zahro menjadi pelajaran bahwa keteguhan dan keuletan bisa menghadapi segala tantangan. Mereka adalah contoh nyata dari semangat yang tak pernah padam, meskipun dunia terus berubah.
















