Polemik Erin dan Mantan Asisten Rumah Tangga Memanas, Muncul Tuduhan Baru
Konflik yang melibatkan Rien Wartia Trigina, atau yang lebih dikenal sebagai Erin, kembali mengemuka dan menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya nama Hera, salah satu mantan asisten rumah tangga (ART)-nya, menjadi pusat perhatian dalam perseteruan yang berujung pada laporan polisi, kini muncul sosok lain yang mengungkap pengalamannya bekerja dengan Erin. Situasi ini menunjukkan bahwa polemik yang melibatkan mantan istri Andre Taulany ini belum sepenuhnya mereda dan justru semakin memanas dengan adanya tudingan baru.
Nama Erin memang belakangan ini kerap dikaitkan dengan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan para pekerja rumah tangganya. Yang membuat kasus ini semakin menarik perhatian adalah fakta bahwa bukan hanya satu mantan ART yang mengaku memiliki persoalan dengannya. Sebelumnya, perseteruan antara Erin dan sejumlah ART telah ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial dan pemberitaan.
Dari Adu Pernyataan ke Ranah Hukum
Konflik ini tidak berhenti pada adu pernyataan semata, melainkan telah merambah ke ranah hukum. Erin diketahui pernah dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan penganiayaan terhadap mantan ART-nya yang bernama Hera. Laporan ini sontak memicu perhatian luas dari masyarakat yang mengikuti perkembangan kasusnya.
Merasa dirugikan oleh berbagai tudingan yang diarahkan kepadanya, Erin tidak tinggal diam. Ia mengambil langkah hukum dengan melaporkan balik Hera atas dugaan pencemaran nama baik. Hingga kini, proses hukum antara kedua belah pihak masih terus berjalan dan belum mencapai putusan akhir. Kasus ini masih terus menjadi perhatian karena masing-masing pihak tetap teguh pada versi cerita mereka masing-masing mengenai peristiwa yang terjadi.
Kemunculan Saksi Baru: Nur Rahmat
Di tengah proses hukum yang masih bergulir, konflik Erin dengan para mantan ART kembali menemukan babak baru. Setelah Hera menjadi sorotan utama, kini muncul sosok lain, yaitu Nur Rahmat, seorang mantan ART yang secara terbuka mulai membicarakan berbagai hal yang menurutnya terjadi selama ia bekerja di kediaman Erin. Pengakuan Nur Rahmat ini kembali memicu perbincangan publik dan menambah panjang daftar polemik yang menyeret nama Erin. Dengan munculnya tudingan baru dari mantan ART yang berbeda, perhatian masyarakat terhadap kasus ini diperkirakan akan terus berlanjut sembari menunggu perkembangan proses hukum yang masih berjalan.
Kabur dari Rumah Erin: Kisah Nur Rahmat
Nur Rahmat menceritakan pengalamannya yang cukup pilu. Setelah bekerja selama lebih dari tiga minggu di rumah Erin, ia memutuskan untuk menyerah. Bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 27 Mei 2026, Nur nekat melarikan diri dari rumah megah tersebut. Ia memilih untuk pergi setelah salat Subuh dan terpaksa memanjat pagar setinggi dua meter. Tindakan nekat ini diambil karena ia pernah tertangkap basah saat mencoba melarikan diri untuk pertama kalinya.
“Manjat pagar, sebenarnya enggak ada niatan buat kabur lagi, sebelumnya udah kabur cuma gagal ditangkap lagi sama security. Pas habis subuh saya tengok-tengok lihat (ruangan) security lampunya gelap, lagi pada tidur, makanya saya keluar pakai sepatu, saya panjat pagar yang ada pohon mangganya, saya loncat dari situ, saya sempat jatuh juga karena terpeleset, saya kabur lewatin beberapa pos satpam, saya ke jalan raya. Ada motor saya pesan gojek pakai aplikasi. Saya dianterin ke rumah kakak saya ke Bogor,” ungkap Nur.
Alasan utama Nur nekat kabur adalah karena ia merasa trauma, tertekan, dan diliputi rasa takut akibat ancaman yang diterimanya. Selain itu, keputusannya untuk pergi juga dipicu oleh kekhawatiran mendalam terhadap kondisi orang tuanya yang sedang sakit. Nur merasa pilu karena tidak diizinkan pulang oleh Erin, meskipun ia telah menceritakan kondisi orang tuanya yang membutuhkan perhatian.
“Dengar orangtua saat itu saya enggak bisa, saya enggak tenang. Di sana juga ada tekanan. Jadi saksi juga, enggak bisa, harus ada bohongnya juga saya enggak bisa. Dengar orangtua sakit masuk puskesmas sampai muntah darah, ya udah saya kabur aja,” imbuh Nur.
Akibatnya, Nur terpaksa kabur tanpa membawa ponsel, pakaian, bahkan gajinya yang masih tertahan oleh Erin. Ia mengaku sudah lelah bekerja sendirian sebagai pembantu di rumah yang begitu besar. Nur juga mengungkapkan bahwa ketika ia pernah mencoba menyampaikan kondisi orang tuanya yang sakit kepada Erin, respons yang ia terima adalah “saya tahu”. Sebelumnya, saat ia meminta izin untuk pulang, Erin tidak memberikan respons dan tidak mengizinkannya.
Ancaman dan Tekanan dari Erin
Nur juga membeberkan bahwa ia nekat pergi tanpa pamit karena sempat menerima ancaman dari Erin. Erin memintanya untuk tidak ikut campur dalam permasalahannya dengan Hera. Mendengar ancaman tersebut, Nur merasa sangat ketakutan. Ia terkejut ketika Erin mengatakan bahwa Nur dan suaminya kini telah menjadi buronan polisi, padahal ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan.
“Sebelumnya ada ancaman-ancaman (kata Erin) ‘jangan ikut campur urusan saya sama Mba Hera, nanti saya laporin ke polisi’. Terus ada ancaman ‘kamu tahu enggak, kamu sama suami kamu udah jadi buronan di polisi’, jadi takut saya,” ungkap Nur.
Selain ancaman tersebut, Nur juga tidak mau dipaksa berbohong oleh Erin. Ia mengaku bahwa sebelum diperiksa oleh penyidik terkait laporan Erin terhadap Hera, dirinya disuruh mengarang cerita.
“Terus jadi saksi juga kan saya enggak tahu. Sebenarnya saya mau-mau aja, asalkan jadi saksi yang sesungguhnya. Cuma waktu itu mau ke Polres, kata ibu ‘bilang yang baik-baik saya di sini’. Ibu bilang ‘kata tolol dan bego itu dihilangin aja, jangan bilang’. Jadi saya enggak bisa terima, karena kata tolol dan bego itu emang ada, saya enggak mau bohong,” imbuh Nur.
“Kata ibu ‘kan ini masalahnya udah melebar ke mana-mana, biar cepat selesai, saya minta tolong sama kamu, kalau ditanya-tanya di sana, tolong bilang yang baik-baik aja selama kamu diperlakukan’. Saya di sana tertekan loh, karena takut, sebelumnya ada ancaman,” sambungnya.
Meskipun Nur mengaku tidak pernah dihina secara fisik selama bekerja dengan Erin, ia menceritakan bahwa Erin kerap memaki dirinya dengan perkataan kasar. “Dihina enggak ada, dikata-katain tolol, bego (tapi) enggak (main tangan),” ujar Nur.
Hingga berita ini diturunkan, Erin belum memberikan tanggapan resmi terkait pengakuan yang disampaikan oleh Nur Rahmat ini. Perkembangan lebih lanjut dari kasus ini masih akan terus dinantikan oleh publik.



















