Nanik S Deyang: Wartawati Timses Prabowo Kini Pimpin BGN

Nanik S. Deyang: Dari Jurnalis Senior Menuju Puncak Karier di Badan Gizi Nasional

Perjalanan karier Nanik Sudaryati Deyang, atau yang lebih akrab disapa Nanik S. Deyang, merupakan cerminan dari adaptabilitas dan dedikasi dalam melayani negeri. Dari dunia jurnalistik yang sarat dengan penelusuran fakta dan penyampaian informasi, Nanik kini memegang amanah penting sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Pengangkatannya menggantikan Dadan Hindayana menandai babak baru dalam upaya pemerintah Indonesia meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pergantian pucuk pimpinan di BGN ini terjadi pada Juni 2026, sebuah langkah strategis yang diharapkan mampu mendorong efektivitas program-program gizi nasional. Nanik, yang sebelumnya telah menjabat sebagai Wakil Kepala BGN sejak September 2025, memiliki rekam jejak yang solid dalam berbagai bidang, termasuk politik dan pemberdayaan masyarakat.

Latar Belakang dan Perjalanan Karier Nanik S. Deyang

Nanik S. Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 3 Januari 1968. Di usianya yang ke-58 tahun pada 2026, ia telah mengumpulkan pengalaman hidup dan profesional yang sangat berharga. Pendidikan formalnya dimulai dengan meraih gelar Sarjana (S1) di bidang Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), sebuah landasan ilmiah yang kuat. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) di bidang Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menunjukkan minatnya pada pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.

Dunia jurnalistik adalah tempat di mana Nanik pertama kali mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dan memahami isu-isu publik. Ia memulai kariernya sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit, bagian dari Kompas Gramedia Group. Pengalaman mendalam di media cetak ini menjadi fondasi kokoh sebelum ia merambah ke posisi manajemen di berbagai penerbitan.

Pada tahun 2014, Nanik menunjukkan kepemimpinannya dengan menjabat sebagai Pemimpin Umum Majalah Femme, sebuah publikasi yang berfokus pada isu-isu perempuan. Tak berhenti di situ, ia kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan, di mana ia bertanggung jawab atas operasional dan strategi penerbitan. Selain itu, jejak kariernya juga mencakup posisi komisaris di beberapa media lain, seperti Info Kuliner, Peluang Usaha, dan The Politic. Pengalaman panjang di industri media ini membekalinya dengan kemampuan komunikasi yang mumpuni dan pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan publik.

Transisi ke Dunia Politik dan Pemerintahan

Perjalanan Nanik tidak berhenti di dunia media. Pada tahun 2019, ia mulai merambah ke arena politik ketika ditunjuk sebagai Wakil Ketua Badan Kemenangan Nasional (BKN) dalam tim pemenangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden 2019. Meskipun kiprahnya di politik belum sepanjang kariernya di jurnalistik, keterlibatannya dalam tim sukses tersebut menunjukkan kepercayaan dan dukungan yang ia miliki.

Setelah kemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024, Nanik kembali dipercaya untuk mengemban amanah penting. Ia menjabat sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BPTASKIN) untuk periode 2024–2025. Dalam peran ini, Nanik terlibat langsung dalam merancang dan mengimplementasikan program-program strategis pemerintah yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di seluruh Indonesia.

Tonggak penting lain dalam karier publiknya adalah saat ia ditunjuk sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) pada Juni 2025. Penunjukan ini memperluas cakupan perannya ke sektor energi dan ekonomi nasional, menunjukkan kepercayaan yang semakin besar terhadap kemampuannya dalam mengelola institusi besar.

Amanah Baru di Badan Gizi Nasional

Pada tanggal 17 September 2025, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Nanik S. Deyang sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Bersamaan dengan pelantikan tersebut, ia juga diberhentikan dari jabatannya di BPTASKIN. Pengangkatan ini memiliki kaitan erat dengan program unggulan pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digalakkan untuk meningkatkan status gizi anak-anak usia sekolah.

Namun, periode awal kepemimpinannya di BGN tidak lepas dari tantangan. Pada September 2025, terjadi insiden keracunan makanan yang menimpa ribuan anak sekolah di berbagai daerah, terkait dengan program makan bergizi gratis. Data dari JPPI mencatat bahwa 6.452 anak terdampak. Dalam sebuah konferensi pers yang emosional, Nanik menyampaikan permintaan maaf atas nama BGN dan seluruh penyedia jasa boga sekolah di Indonesia. Ia juga mengumumkan penutupan sementara 40 dapur MBG untuk keperluan investigasi mendalam.

Kepemimpinan Puncak di BGN

Menyadari tantangan dan potensi yang dimiliki Nanik, Presiden Prabowo Subianto kembali memberikan kepercayaan lebih. Pada Juni 2026, tepat satu tahun setelah dilantik sebagai wakil kepala, Nanik S. Deyang ditunjuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, menggantikan Dadan Hindayana. Pergantian ini disambut dengan harapan besar untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia secara lebih efektif dan merata.

Sebagai Kepala BGN, Nanik memikul tanggung jawab besar dalam pelaksanaan program-program strategis pemerintah di bidang gizi. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu prioritas utamanya, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan dan masa depan generasi muda.

Dedikasinya terhadap negara juga telah mendapatkan pengakuan. Pada tahun 2025, Nanik dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Pratama, sebuah apresiasi atas kontribusinya yang luar biasa bagi bangsa dan negara.

Peran Sosial dan Yayasan

Di luar tugas-tugas formalnya, Nanik S. Deyang juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), sebuah yayasan yang didirikan oleh Prabowo Subianto. Yayasan GSN memiliki fokus utama pada pemberdayaan anak-anak, perempuan, dan masyarakat yang kurang mampu. Misi yayasan ini selaras dengan tujuan Nanik dalam perannya di BGN, yaitu menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.

Melalui berbagai peran dan amanah yang diemban, Nanik S. Deyang menunjukkan bahwa kombinasi antara ketajaman analitis seorang jurnalis, kemampuan manajerial seorang pemimpin, dan kepedulian sosial seorang aktivis dapat menjadi kekuatan besar dalam memajukan bangsa.