Inflasi Sumsel Mei 2026: Emas & Cabai Pemicu Lonjakan 2,61%

Inflasi Sumatra Selatan Meningkat Signifikan, Capai 2,61% di Mei 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Selatan mencatat adanya lonjakan inflasi tahunan di wilayah tersebut pada Mei 2026, mencapai angka 2,61% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup berarti jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, baik pada bulan April 2026 maupun pada bulan Mei tahun lalu.

Sebagai gambaran, inflasi tahunan Sumatra Selatan pada April 2026 tercatat sebesar 1,63%. Sementara itu, pada periode yang sama tahun sebelumnya, Mei 2025, inflasi di provinsi ini berada di angka 2,33%. Kenaikan ini mengindikasikan adanya tekanan harga yang lebih luas di berbagai sektor perekonomian daerah.

Kepala BPS Provinsi Sumatra Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa seluruh kelompok pengeluaran tercatat mengalami kenaikan indeks dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terbatas pada satu atau dua sektor saja, melainkan bersifat menyeluruh.

“Mulai dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, karena ini dipengaruhi oleh harga-harga satu tahun sebelumnya,” ujar Wahyu dalam sebuah rilis berita statistik pada Selasa (2/6/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi adanya efek berkelanjutan dari pergerakan harga di masa lalu terhadap angka inflasi saat ini.

Analisis Kontributor Inflasi

Secara lebih rinci, BPS memaparkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan di Sumatra Selatan. Kelompok ini memberikan andil sebesar 1,04% terhadap total inflasi, dengan tingkat inflasi yang mencapai 12,65%. Ini menunjukkan bahwa biaya untuk kebutuhan perawatan diri dan layanan terkait mengalami peningkatan yang signifikan.

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi yang substansial. Kelompok ini menyumbang andil sebesar 0,99% terhadap inflasi tahunan, dengan tingkat inflasi sebesar 3,16%. Peningkatan harga pada bahan pangan pokok dan kebutuhan sehari-hari ini tentu sangat dirasakan oleh masyarakat.

Beberapa komoditas spesifik diidentifikasi sebagai pemicu utama kenaikan inflasi tahunan di Sumatra Selatan. Komoditas-komoditas tersebut meliputi:

  • Emas perhiasan: Kenaikan harga emas seringkali dipengaruhi oleh faktor global dan persepsi investor terhadap aset aman.
  • Daging ayam ras: Fluktuasi harga daging ayam ras dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk biaya pakan, ketersediaan bibit, dan permintaan pasar.
  • Cabai merah: Komoditas hortikultura ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan musim tanam.
  • Minyak goreng: Harga minyak goreng dipengaruhi oleh harga komoditas mentah seperti kelapa sawit, serta biaya produksi dan distribusi.

Faktor Pemicu Inflasi: Global dan Lokal

Menurut Wahyu, dampak dari situasi global, khususnya konflik yang terjadi di Iran, mulai tercermin pada sejumlah indikator ekonomi di Indonesia, termasuk inflasi di Sumatra Selatan maupun secara nasional. Salah satu pemicu utama yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang cukup signifikan.

“Ya, sekarang orang mengeluh apa lagi yang naik (mobil) solar atau dexlite, naiknya cukup tinggi. Nah, kemudian pengaruhnya juga ke Avtur untuk angkutan udara sudah banyak mengeluh, harganya naik hampir dua kali lipat,” jelas Wahyu, menggambarkan dampak langsung dari kenaikan harga energi.

Kenaikan harga BBM ini tidak hanya memengaruhi biaya operasional transportasi darat, tetapi juga sektor penerbangan, yang pada akhirnya dapat berimbas pada kenaikan harga barang-barang yang diangkut.

Selain faktor global, inflasi di Sumatra Selatan juga dipengaruhi oleh gejolak harga sejumlah komoditas lokal. Sektor hortikultura, khususnya cabai, menjadi sorotan utama. Kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti musim panas yang ekstrem, dapat menyebabkan produksi pertanian menjadi tidak stabil. Ketidakpastian pasokan ini secara langsung berdampak pada ketersediaan dan harga komoditas tersebut di pasar.

“Dan tentu situasi ini menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk mengantisipasi pergerakan inflasi pada bulan-bulan mendatang,” tegas Wahyu, menunjukkan bahwa pemerintah secara aktif memantau dan berupaya mengendalikan laju inflasi.

Inflasi Bulanan dan Komoditas Penyumbang

Lebih lanjut, data BPS juga merinci pergerakan inflasi bulanan di Sumatra Selatan. Pada Mei 2026, tercatat inflasi bulanan sebesar 0,61% (month to month/mtm). Angka ini berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya, April 2026, yang justru mengalami deflasi sebesar 0,04%. Perubahan dari deflasi menjadi inflasi menunjukkan adanya tekanan harga yang kembali muncul dalam skala bulanan.

Dalam konteks inflasi bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,44% terhadap inflasi bulanan. Peningkatan harga dalam kelompok ini seringkali bersifat musiman dan dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan.

Komoditas utama yang menjadi pemicu inflasi bulanan meliputi:

  • Cabai merah: Seperti pada inflasi tahunan, cabai merah kembali menjadi perhatian utama.
  • Bawang merah: Fluktuasi harga bawang merah juga seringkali terjadi dan memengaruhi inflasi.
  • Tomat: Komoditas hortikultura lain yang rentan terhadap perubahan pasokan.
  • Cabai rawit: Kenaikan harga cabai rawit, yang merupakan bumbu dapur esensial, dapat berdampak signifikan pada pengeluaran rumah tangga.
  • Ketimun: Meskipun sering dianggap sebagai sayuran pendamping, kenaikan harganya juga berkontribusi pada inflasi.

Dengan demikian, pergerakan inflasi di Sumatra Selatan pada Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan yang perlu diwaspadai. Kombinasi antara faktor global, seperti kenaikan harga energi, dan faktor lokal, seperti ketidakstabilan pasokan komoditas pangan, menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.