Bisnis  

Tiga Bulan Pertama 2026, Defisit Perdagangan Maluku Capai US$ 138,99 Juta

Panbil Mall

Defisit Perdagangan Maluku pada Januari–Maret 2026

Maluku mengalami defisit perdagangan sebesar US$ 74,99 juta selama periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa impor barang lebih tinggi dibandingkan ekspor, terutama dari sektor migas yang menjadi penyebab utama defisit tersebut.

Penyebab Utama Defisit Perdagangan

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, defisit perdagangan dipicu oleh tingginya impor migas, sementara ekspor migas Maluku dalam periode tersebut nihil. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana Maluku juga mengalami defisit setiap bulannya. Tahun 2025 mencatat defisit terdalam pada Desember 2025 dengan angka US$ 37,28 juta.

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menjelaskan bahwa defisit terjadi karena masih tingginya impor barang dari luar negeri, khususnya dari sektor migas. Sementara itu, ekspor Maluku belum mampu menyeimbangkan besarnya impor migas dari luar negeri.

Data Impor dan Ekspor Migas

Pada periode Januari hingga Maret 2025, BPS Maluku mencatat tidak adanya ekspor migas dari Maluku. Sementara total nilai impor migas dari luar negeri pada periode yang sama mencapai US$ 85,88 juta.

Untuk neraca perdagangan Maluku pada Januari–Maret 2026, defisit yang tercatat mencapai US$ 138,99 juta. Kondisi ini dipengaruhi oleh defisit sektor nonmigas sebesar US$ 26,39 juta dan defisit sektor migas sebesar US$ 112,60 juta.

Neraca Perdagangan Bulanan

Pada bulan Maret 2026, neraca nilai perdagangan Maluku mengalami defisit sebesar US$ 65,94 juta. Defisit ini berasal dari sektor migas yang mencatat defisit US$ 65,89 juta dan sektor nonmigas yang mengalami defisit US$ 0,04 juta.

Selain itu, neraca volume perdagangan Maluku pada Januari–Maret 2026 juga mengalami defisit sebesar 136,84 ribu ton. Kondisi ini dipengaruhi oleh surplus sektor nonmigas sebesar 1,03 ribu ton dan defisit sektor migas sebesar 137,87 ribu ton.

Pada bulan Maret 2026, neraca volume perdagangan Maluku mencatat defisit sebesar 61,01 ribu ton. Defisit ini berasal dari transaksi perdagangan sektor migas yang mencatat defisit sebesar 60,97 ribu ton dan sektor nonmigas yang mengalami defisit sebesar 0,04 ribu ton.

Tren Defisit Perdagangan

Tren defisit perdagangan di Maluku terus berlangsung, baik secara tahunan maupun bulanan. Dari data yang tersedia, Maluku selalu mengalami defisit pada setiap bulan sepanjang tahun 2025. Bahkan, defisit tertinggi terjadi pada Desember 2025 dengan angka US$ 37,28 juta.

Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya mengkhawatirkan karena defisit perdagangan bisa terjadi akibat kebijakan pemerintah atau perubahan pola konsumsi masyarakat. Namun, untuk memperbaiki kondisi ini, diperlukan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Langkah yang Diperlukan

Untuk mengurangi defisit perdagangan, diperlukan upaya bersama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Peningkatan produksi lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor
  • Pengembangan sektor industri dan pertanian yang berkelanjutan
  • Peningkatan promosi ekspor melalui pameran dan kerja sama internasional
  • Penguatan kebijakan pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi daerah

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Maluku dapat segera mengurangi defisit perdagangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.