Bisnis  

IIF Dorong Investasi Infrastruktur, Soroti Peran Pemerintah dan Disiplin ESG



Peran Pemerintah, Likuiditas Pasar, dan ESG dalam Mendorong Investasi Infrastruktur Nasional

Pada ajang APLMA Loan Market Conference Indonesia 2026 yang diadakan di Jakarta pada 16 April 2026, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menyoroti pentingnya beberapa faktor dalam mendorong peningkatan investasi infrastruktur nasional. Faktor-faktor tersebut meliputi inisiatif pemerintah, likuiditas pasar, serta disiplin terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Peran Pemerintah dalam Pembangunan Infrastruktur

Presiden Direktur dan CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan, menyatakan bahwa Indonesia saat ini berada dalam posisi strategis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur melalui ekosistem lembaga keuangan khusus yang terkoordinasi. IIF hadir sebagai pelengkap industri perbankan dan pasar modal, bukan untuk bersaing.

Selama dua dekade terakhir, pemerintah telah membangun jaringan institusi khusus untuk mendukung pembiayaan pembangunan. Bersama sejumlah lembaga, IIF telah berkontribusi dalam pembiayaan lebih dari 150 proyek infrastruktur di berbagai sektor selama 16 tahun terakhir.

Untuk memperkuat skala pembiayaan, pemerintah juga membentuk dua sovereign wealth fund (SWF), termasuk yang terbaru yang berperan sebagai super holding BUMN sekaligus investor program prioritas. Seluruh institusi ini disebut berkolaborasi secara erat.

Kondisi Pasar dan Peluang Investasi

Dari sisi pasar, Rizki menilai likuiditas domestik cukup kuat, tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio) perbankan yang berada di kisaran 80%. Selain itu, pertumbuhan dana pensiun dan perusahaan asuransi membuka peluang pembiayaan jangka panjang.

IIF sendiri berperan dalam pembiayaan tahap awal (early stage financing) hingga skema take-out financing. Perusahaan juga aktif mengembangkan instrumen pasar modal seperti green perpetual notes, credit enhanced bonds, serta obligasi tenor panjang.

Pemerintah, melalui salah satu SWF, juga telah menerbitkan instrumen blended finance guna menarik lebih banyak investasi ke sektor infrastruktur.

Dua Faktor Utama Kunci Keberhasilan Investasi Infrastruktur

Rizki menekankan dua faktor utama yang menjadi kunci keberhasilan investasi infrastruktur, yakni harga pembiayaan yang kompetitif dan penerapan prinsip ESG.

“IIF selama lima tahun terakhir fokus menurunkan biaya dana sekaligus memastikan standar lingkungan dan sosial diterapkan secara ketat dalam setiap proyek,” ujarnya.

Sebagai bagian dari komitmennya, IIF juga menandatangani perjanjian pinjaman dengan perusahaan swasta untuk proyek di sektor kesehatan. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat infrastruktur sosial dan ketahanan kesehatan nasional sebagai salah satu prioritas pemerintah.

Inovasi dan Kolaborasi dalam Pembiayaan Infrastruktur

Selain itu, IIF terus mengembangkan berbagai inovasi dalam pembiayaan infrastruktur. Beberapa instrumen yang telah dikembangkan antara lain:

  • Green perpetual notes: instrumen pendanaan jangka panjang yang didukung oleh prinsip lingkungan.
  • Credit enhanced bonds: obligasi yang diperkuat oleh penjamin kredit untuk meningkatkan daya tarik bagi investor.
  • Obligasi tenor panjang: instrumen pasar modal yang cocok untuk proyek infrastruktur berdampak jangka panjang.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan sektor swasta menjadi kunci dalam menciptakan sistem pembiayaan yang berkelanjutan dan efisien. Dengan adanya inisiatif-inisiatif seperti SWF dan blended finance, diharapkan dapat menarik lebih banyak partisipasi dari investor baik lokal maupun internasional.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Meskipun ada tantangan, seperti risiko finansial dan kebutuhan regulasi yang lebih jelas, IIF tetap optimis akan potensi infrastruktur Indonesia. Dengan komitmen terhadap ESG dan pengembangan inovasi, IIF siap menjadi mitra utama dalam membangun infrastruktur yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat.