Pesta Media AJI Jakarta 2026 menyelenggarakan sesi talkshow dengan tema “Terlena Ringkasan Berita Hasil AI: Apakah Berita di Situs Bakal Tetap Laku?”
Sesi yang dipandu oleh Nuran Wibisono, editor Tirto.id, membahas berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan media dalam menghadapi tren penggunaan teknologi AI. Salah satu isu utama adalah penurunan jumlah pengunjung situs media akibat masyarakat yang lebih memilih mengakses informasi melalui ringkasan yang disediakan oleh AI.
Ika Idris, Co-Director & Co-Founder Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia, menjelaskan bahwa perilaku pembaca kini berubah drastis. Mereka cenderung berhenti di ringkasan AI tanpa mengunjungi situs berita langsung. Hal ini berdampak pada pendapatan media yang semakin menurun.
“Masalahnya sekarang banyak audiens yang berhenti di AI Overview. Jadi jangankan barangkali nge-klik laman berita, masuk ke berita saja jarang… Karena behavior audiens yang lama-lama berubah dengan adanya Generative AI ini, otomatis penghasilan media juga berubah,” ujar Ika.
Riset yang dilakukan oleh Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia terhadap media-media anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menemukan bahwa pendapatan media daring dari traffic pengunjung situs mengalami penurunan drastis antara 20% hingga 70% sejak Google mulai menerapkan AI overview.
Media dengan skala menengah dan di atas 30 pekerja paling terdampak. Citra Dyah, Wakil Ketua Umum AMSI, membenarkan hasil riset tersebut. Menurutnya, audiens kini memperlakukan platform AI seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya sebagai mesin pencarian Google.
Hal ini membuat masyarakat “berhenti” di ringkasan AI tanpa mengunjungi situs berita langsung. Padahal, platform-platform AI mencuri informasi dari situs-situs media untuk membuat ringkasan tersebut lewat crawling bots. Crawling bots adalah program otomatis yang dikerahkan platform untuk mengunduh informasi dalam situs web.
“Jadi ada pengambilan konten tanpa izin, tanpa kompensasi juga kepada perusahaan media. Kemudian itu ada di platform lain, lalu dimakan oleh audiens yang tidak mampir ke warungnya sama sekali,” kata Citra.
AMSI telah melakukan negosiasi dengan platform digital seperti Google dan Meta dalam hal mendorong penerapan Publisher Rights. Publisher Rights merupakan implementasi dari regulasi Perpres No. 32 Tahun 2024 yang mewajibkan platform digital memberikan kompensasi atas konten berita yang diambil dari media.
“Itu arahnya adalah menyambung produk terhubung itu sebagai punya copyright. Itu jadi dasar kita untuk bernegosiasi dengan perusahaan AI saat kita meminta kompensasi,” ujar Citra.
Ika menyebutkan bahwa kebanyakan media yang memperjuangkan haknya untuk mendapatkan kompensasi dari perusahaan platform digital adalah media skala besar yang memiliki kesadaran akan dampak AI pada model bisnis mereka. Sedangkan media skala kecil sering kali belum merasakan urgensi untuk melakukan advokasi serupa.
Meski begitu, Ika menekankan bahwa justru media-media kecil yang beroperasi di daerah memiliki keunggulan karena liputan mereka dicari oleh audiens maupun platform digital.
“Sayangnya, media kecil di daerah tidak menyadari [konten mereka] adalah emas yang bisa digunakan untuk negosiasi dengan perusahaan platform besar. Mereka melakukan pull data dengan media-media daerah, dan itu bisa dijual lewat asosiasi ke platform media. Kalau emas itu harus dilindungi. Jangan dibagikan [gratis],” kata Ika.
Lebih lanjut, Ika menyarankan audiens untuk mendukung kelangsungan media konvensional maupun media alternatif favorit mereka dengan mencari informasi langsung di situs berita, bukan lewat perantara seperti Google, ChatGPT atau Claude.
“Jangan langsung ke Google dulu, tapi ke situsnya langsung. Itu akan sangat berarti bagi media karena Anda menyumbang traffic langsung pada media,” katanya.
Pesta Media 2026 menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari diskusi, pameran foto, lokakarya, pemutaran film, membuat zine hingga penampilan seni. Untuk diskusi di Pesta Media, AJI Jakarta menampilkan topik-topik beragam, seperti kerentanan jurnalis perempuan dalam ruang redaksi dan pekerjaan, nasib media saat ini, konservasi dan perlindungan satwa liar, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan kaum muda, ekstraktif batubara dan ekspansi nikel, hingga perempuan adat.
Pesta Media juga akan menghadirkan lokakarya khusus bagi jurnalis terkait personal branding, jurnalisme solusi, dan jurnalisme untuk konservasi. Selain itu, ada lokakarya zine yang akan bertemakan soal hutan dan pemutaran film yang menampilkan resiliensi masyarakat adat terhadap ekspansi pembangunan di Papua.
Saat ini, ada 16 lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan media, 26 media partner, serta 6 rekan universitas, yang berpartisipasi baik mengisi acara atau mengisi 30 booth/stand promosi yang disediakan di Selasar dan Lantai 2 Gedung Teater Wahyu Sihombing. Selain itu, Pesta Media juga menyediakan booth medis untuk pemeriksaan kesehatan gratis selama dua hari.


















