Keinginan Trump Agar AS Keluar dari NATO
3. Kabinet Trump Ikut ‘Menyerang’
Sentimen anti-NATO ini ternyata didukung oleh jajaran menteri kabinetnya.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung setia NATO, kini mulai mempertanyakan relevansi aliansi tersebut.
”Kita harus meninjau kembali apakah aliansi ini masih melayani tujuannya atau sekarang telah menjadi jalan satu arah, di mana Amerika hanya memberi bantuan tapi ditolak saat membutuhkan hak pangkalan dan hak terbang,” tegas Rubio kepada Fox News.
4. Terganjal Aturan Kongres
Meski Trump berapi-api ingin keluar, secara hukum ia akan menghadapi tembok besar.
Berdasarkan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) 2024, seorang Presiden tidak bisa menarik diri dari NATO tanpa persetujuan dua pertiga Senat.
”Kongres tidak akan tinggal diam sementara Presiden mencoba membongkar aliansi yang telah menjaga keamanan warga Amerika selama beberapa dekade,” kata Senator Demokrat, Mark Warner.
5. Respon Inggris: “Ini Bukan Perang Kita”
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menanggapi dingin serangan verbal dari pihak Gedung Putih.
Starmer menegaskan bahwa NATO tetap menjadi aliansi militer paling efektif di dunia, namun ia tetap pada pendiriannya terkait konflik di Timur Tengah.
”Ini bukan perang kita, dan kita tidak akan terseret ke dalamnya,” tegas Starmer.
Hingga saat ini, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte masih terus berupaya melakukan lobi diplomatik untuk meluluhkan hati Trump.
Namun, para pengamat menilai “NATO yang dulu” sudah berakhir, dan Eropa harus mulai bersiap membangun sistem keamanan mereka sendiri tanpa bergantung pada Amerika Serikat.
(Ipl/Ft)





















