Patrolmedia, Jakarta – Sebagian besar wilayah Indonesia kini mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi tiba-tiba.
”Kondisi pancaroba perlu diwaspadai karena dapat memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, hingga petir dalam waktu singkat,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Selasa (31/3/2026).
Ciri-ciri Pancaroba: Panas tapi Tiba-tiba Hujan
BMKG menjelaskan periode ini ditandai dengan cuaca yang tidak menentu.
Meski intensitas hujan mulai berkurang, suhu udara cenderung meningkat dan terasa lebih gerah.
Masyarakat diminta waspada terhadap dinamika cuaca yang berubah cepat, seperti:
- Hujan deras mendadak dalam durasi singkat.
- Angin kencang atau puting beliung.
- Kilat/petir yang menyambar.
Musim Kemarau Dimulai April 2026
Berdasarkan buku Prediksi Musim Kemarau 2026, awal musim panas tahun ini tidak terjadi serentak, tapi bertahap mulai April hingga Juni.
Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3% wilayah Indonesia akan mulai “kering” pada April ini.
Berikut wilayah yang masuk daftar awal musim kemarau 2026, antara lain:
- Pesisir utara Jawa bagian barat.
- Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.
- Bali, NTB, dan NTT.
Selanjutnya, 26,3% wilayah menyusul di bulan Mei dan 23,3% lainnya di bulan Juni.
Wilayah Nusa Tenggara diprediksi menjadi daerah yang paling awal merasakan kemarau sebelum meluas ke wilayah lain.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan jatuh pada Agustus mendatang bagi 61,4% wilayah Indonesia.
Namun, ada catatan penting bagi warga, bahwa kemarau tahun ini diprediksi lebih menyengat.
”Musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dari biasanya. Sebanyak 64,5 persen wilayah masuk kategori bawah normal atau curah hujannya lebih sedikit dibanding rata-rata,” jelas BMKG.
Perubahan cuaca yang drastis di masa pancaroba berisiko mengganggu kesehatan dan aktivitas transportasi.
Selain itu, watga diminta bersiap menghadapi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat memasuki kemarau nanti.
Masyarakat disarankan rutin memantau info cuaca di kanal resmi BMKG agar dapat meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem.
(Kml/Ft)






















