Patrolmedia, Tanjungpinang – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, memperkirakan tekanan inflasi listrik tidak akan berlangsung lama di tahun 2026.
“Kami memperkirakan tekanan inflasi listrik akan semakin berkurang mulai April 2026,” kata Amalia saat menghadiri Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Mendagri Tito Karnavian di Tanjungpinang, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, pada bulan April nanti, perbandingan Indeks Harga Konsumen (IHK) tidak lagi terpengaruh oleh efek dasar atau low base effect.
Hal ini terjadi lantaran basis perbandingan harga tahun lalu sudah tidak lagi memakai angka harga diskon, sehingga fluktuasi terlihat lebih stabil.
Amalia juga tak menampik kebijakan tarif listrik masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi angka inflasi nasional.
Pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) disebut sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan di sektor energi tersebut.
Amalia menjelaskan, dinamika inflasi saat ini tidak lepas dari apa yang terjadi di awal tahun sebelumnya.
Kala itu, pemerintah menerapkan program diskon tarif listrik yang memicu terjadinya deflasi atau penurunan harga secara umum di sektor tersebut.
Namun, kondisi berbalik saat masa berlaku diskon tersebut berakhir.
Ketika tarif listrik kembali normal ke harga awal, muncul tekanan inflasi pada IHK karena adanya kenaikan harga yang dirasakan konsumen dibanding periode subsidi.
“Tren kenaikan ini akan mulai menunjukkan tanda-tanda pelandaian dalam waktu dekat, tepatnya pada bulan depan (April),” kata dia lagi.
Di sisi lain, Amalia juga menyoroti kondisi ekonomi di daerah, salah satunya Kepri.
Ia mencatat secara umum, pertumbuhan ekonomi di Kepri menunjukkan tren positif dan stabil.
Meski ekonomi tumbuh, Amalia mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga.
Terlebih, tantangan besar sudah di depan mata yakni menjaga ketersediaan bahan pokok dan mengendalikan harga menjelang momentum Hari Raya Idul Fitri.
Editor: Fatmi Rahim




















