Harga emas mencetak rekor tertinggi baru, menembus angka US$ 5.000 per ons troi pada awal pekan ini, memicu antusiasme di kalangan investor dan pelaku pasar. Lonjakan harga ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Pada hari Senin (26 Januari 2026) pukul 09.20 WIB, harga emas spot mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,79%, mencapai US$ 5.071,96 per ons. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi di US$ 5.085,50 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari 2026 juga mengalami kenaikan serupa, naik 1,79% menjadi US$ 5.068,70 per ons.
Kenaikan harga emas global ini berdampak positif pada harga emas di dalam negeri. Harga pecahan satu gram emas Antam tercatat berada di angka Rp 2.917.000, naik Rp 30.000 dibandingkan dengan harga pada hari Sabtu (24 Januari 2026) yang berada di level Rp 2.887.000 per gram.
Dampak pada Saham Emiten Emas Domestik
Seiring dengan penguatan harga emas global, pergerakan harga saham emiten emas domestik juga menunjukkan tren positif di awal perdagangan Senin (26 Januari 2026) pukul 10.05 WIB. Beberapa saham bahkan mencatatkan kenaikan yang signifikan.
Berikut adalah daftar saham emiten emas yang mengalami kenaikan harga:
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS): Mengalami lonjakan harga tertinggi di antara saham produsen emas lainnya, dengan penguatan sebesar 15,79% ke level Rp 7.150 per saham.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Melonjak 11,89% ke Rp 4.800 per saham.
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Mendaki 8,8% ke level Rp 1.360 per saham.
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Naik 8,58% ke Rp 2.530 per saham.
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Menguat 6,98% ke Rp 2.070 per saham.
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB): Naik 6,45% ke Rp 660 per saham.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Menguat 6,06% ke Rp 3.500 per saham.
ANTM Chart
by TradingView
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Kenaikan harga emas yang signifikan ini didorong oleh beberapa faktor utama:
- Permintaan Aset Aman (Safe Haven): Ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik yang meningkat mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap aman, dan emas seringkali menjadi pilihan utama.
- Ekspektasi Pelonggaran Kebijakan Moneter AS: Ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneternya, seperti menurunkan suku bunga, juga menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas. Pelonggaran kebijakan moneter cenderung melemahkan nilai tukar dolar AS, yang pada gilirannya membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.
- Pembelian Emas oleh Bank Sentral: Beberapa bank sentral di dunia, terutama di negara-negara berkembang, terus meningkatkan cadangan emas mereka. China, misalnya, telah memperpanjang pembelian emasnya selama empat belas bulan berturut-turut hingga Desember.
- Arus Masuk ke ETF Emas: Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang berinvestasi pada emas juga mengalami arus masuk dana yang signifikan, yang semakin mendorong kenaikan harga emas.
Sebagai informasi tambahan, emas telah mengalami kenaikan harga sebesar 64% sepanjang tahun 2025. Sementara itu, di sepanjang tahun ini, harga emas telah naik lebih dari 17%.
Krisis Kepercayaan Terhadap Aset AS?
Beberapa analis berpendapat bahwa katalis terbaru kenaikan harga emas adalah “krisis kepercayaan terhadap pemerintahan AS dan aset-aset AS,” yang dipicu oleh beberapa keputusan yang dinilai tidak menentu dari pemerintahan AS.
Kyle Rodda, seorang analis pasar senior di Capital.com, menyatakan bahwa ketidakpastian terkait kebijakan AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman seperti emas.






















