Polisi Israel Bubarkan Natal Warga Palestina, Pria Berkostum Santa Ditahan

Polisi Israel Bubarkan Natal
Seorang warga Kristiani berkostum Santa Claus ditangkap polisi Israel saat merayakan Natal di kota Haifa, Israel utara. (Foto: Middel East Eye)
Panbil Mall

Patrolmedia, Haifa – Polisi Israel bubarkan Natal warga Palestina dalam perayaan agama yang digelar sekali setahun di Kota Haifa, Israel Utara.

Video: Polisi Israel Bubar Paksa Perayaan Natal di Haifa

Dalam video viral, polisi Israel terlihat menangkap paksa seorang pria berkostum Santa Claus yang merupakan warga kristiani Palestina  di perayaan Natal tersebut.

Melansir Middleeasteye, Kamis (25/12/25), insiden ini terjadi di lingkungan Wadi Nisnas, Minggu (21/12/2025), kawasan yang mayoritas dihuni warga Palestina Kristen.

Polisi disebut datang dan menghentikan acara secara paksa, lalu menyita sejumlah peralatan yang digunakan dalam perayaan tersebut.

Mossawa Centre, organisasi yang memperjuangkan hak-hak warga Palestina di Israel, menilai tindakan polisi dilakukan dengan kekerasan berlebihan.

Menurut mereka, aparat tidak hanya menahan pria berkostum Santa Claus, tetapi juga menangkap seorang DJ dan pedagang kaki lima yang berada di lokasi.

Ketiga orang tersebut sempat ditahan oleh polisi sebelum akhirnya dibebaskan pada Senin.

Meski demikian, Mossawa menyebut mereka kemungkinan akan kembali dipanggil untuk menjalani proses hukum di pengadilan.

Selain membubarkan acara Natal, Mossawa juga melaporkan polisi menggerebek sebuah institut musik di kawasan tersebut.

Penggerebekan itu dilakukan dengan alasan lokasi itu tidak memiliki izin resmi.

Sejumlah rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan aparat polisi menyeret pria yang mengenakan kostum Santa Claus keluar dari lokasi perayaan.

Video polisi Israel bubarkan Natal tersebut memicu reaksi dan kecaman dari warganet.

Rekaman lain menunjukkan polisi menghentikan tarian dabke, tarian tradisional Palestina yang sedang dilakukan warga di jalanan sekitar lokasi acara.

Aksi pembubaran ini memicu kritik dari kelompok masyarakat sipil yang menilai perayaan keagamaan seharusnya dilindungi, terutama bagi komunitas minoritas.

Sementara, kepolisian Israel berdalih terkait insiden tersebut.

Mereka menyatakan tindakan dilakukan sebagai respon atas laporan kebisingan dan gangguan ketertiban umum.

Polisi menegaskan pembubaran acara bukan ditujukan pada perayaan keagamaan, melainkan untuk menjaga ketertiban.

Namun, insiden ini kembali menyoroti ketegangan yang kerap dialami warga Palestina, termasuk dalam perayaan hari besar keagamaan.

 

(Iwn/Ft)