Kabupaten Barito Utara sempat mengalami gejolak harga dan ketersediaan gas elpiji 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan keresahan di kalangan masyarakat. Warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas bersubsidi ini, serta kenaikan harga yang signifikan di tingkat pengecer.
Penyebab Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Barito Utara
Menurut keterangan dari Kabid Perlindungan Konsumen Disdagperin Kalteng, Maskur, kelangkaan gas elpiji 3 kg di Barito Utara disebabkan oleh gangguan teknis pada fasilitas pengisian LPG.
“Tabung gas LPG 3 kg yang kemarin buat langka itu karena mesin pengisiannya rusak. Biasanya mereka bisa ngirim 10–11 truk. Karena mesinnya ada yang rusak, akhirnya tidak bisa maksimal seperti itu,” jelas Maskur.
Kerusakan ini mengakibatkan proses pengisian gas tidak dapat berjalan normal, sehingga pasokan ke daerah tersebut terhambat. Proses perbaikan pun memakan waktu karena suku cadang yang dibutuhkan tidak tersedia di Kalimantan Tengah dan harus didatangkan dari Jawa.
Dampak Kelangkaan dan Harga Elpiji
Kelangkaan ini berdampak langsung pada masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada gas elpiji 3 kg untuk kebutuhan sehari-hari. Selain sulit ditemukan, harga gas di tingkat pengecer juga melonjak drastis, melebihi harga normal.
Maskur menjelaskan bahwa laporan masyarakat mengenai tingginya harga lebih banyak mengarah pada pengecer, bukan pada pangkalan resmi. “Pemantauan kita di pangkalan. Tapi masyarakat biasanya melaporkan pengecer, karena mereka rata-rata belinya di pengecer. Di pangkalan sudah habis, katanya,” ujarnya.
Di pangkalan resmi, harga gas elpiji 3 kg tetap mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. “Di Muara Teweh itu di angka Rp 22.000–Rp25.000. Tapi tergantung kecamatan. Kalau kecamatan jauh mungkin berbeda,” kata Maskur.
Upaya Penanganan dan Pemulihan Pasokan
Setelah melalui proses perbaikan, mesin pengisian LPG kini telah berfungsi kembali dan penyaluran gas elpiji 3 kg ke Barito Utara kembali normal.
“Pengiriman sudah sesuai loading order (LO)-nya lagi. Kalau biasanya 10 atau 11 truk, sekarang sudah sesuai lagi,” kata Maskur.
Meskipun pasokan telah kembali normal, Maskur mengingatkan bahwa rantai distribusi LPG memiliki aturan tersendiri yang membatasi intervensi langsung. Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga gas elpiji 3 kg di masyarakat.
Langkah Antisipasi Kedepan
Untuk mengantisipasi masalah serupa di masa depan, Disdagperin Kalteng berencana untuk memperkuat koordinasi antarinstansi terkait, termasuk Pertamina dan kepolisian.
“Insya Allah, dalam waktu dekat kami akan duduk bersama dulu antara Pertamina, kepolisian, dan perdagangan,” tutup Maskur.
Berikut adalah poin-poin penting terkait permasalahan kelangkaan gas elpiji 3 kg di Barito Utara:
- Penyebab Kelangkaan: Kerusakan mesin pengisian LPG.
- Dampak: Kenaikan harga di tingkat pengecer dan kesulitan mendapatkan gas.
- Solusi: Perbaikan mesin pengisian dan normalisasi penyaluran.
- Langkah Antisipasi: Peningkatan koordinasi antarinstansi.
- Harga di Pangkalan: Mengikuti HET yang ditetapkan (Rp 22.000–Rp25.000 di Muara Teweh, tergantung kecamatan).
Himbauan Kepada Masyarakat
Masyarakat diimbau untuk membeli gas elpiji 3 kg di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET. Jika menemukan harga yang tidak sesuai, masyarakat dapat melaporkannya kepada pihak berwenang. Pemerintah daerah juga diharapkan untuk terus memantau ketersediaan dan harga gas elpiji 3 kg di seluruh wilayah Barito Utara agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Selain itu, sosialisasi mengenai HET dan lokasi pangkalan resmi perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih mudah mendapatkan gas dengan harga yang terjangkau.























