Pemerintah Lebanon menilai pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang berpotensi memperlambat upaya damai antara Tel Aviv dan Hizbullah. Meski demikian, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa jalur perundingan tidak boleh berhenti. Ia menyampaikan sikap itu saat berbicara di hadapan mahasiswa Holy Spirit University of Kaslik, Beirut, pada Kamis (15/10/2026), dan menekankan bahwa Lebanon tetap memandang negosiasi sebagai jalan keluar dari konflik.
Aoun menolak gagasan bahwa ada opsi lain di luar perang atau perundingan. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa perang pada akhirnya hanya berujung pada kemenangan mutlak salah satu pihak atau memaksa pihak lain tunduk lewat pembicaraan. Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Beirut ingin menjaga ruang diplomasi tetap terbuka, meskipun situasi politik di Israel sedang memasuki masa pemilu.
Di sisi lain, Lebanon juga masih aktif berkomunikasi dengan Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Menurut Aoun, keterlibatan Washington penting untuk memastikan pembicaraan Israel-Lebanon tidak terhenti. Pemerintah Lebanon berharap proses itu bisa mendorong berakhirnya serangan Israel ke wilayahnya, terutama operasi yang diklaim bertujuan menumpas Hizbullah. Aoun juga memperingatkan bahwa jika konflik tidak segera dihentikan, serangan dapat menjalar lebih luas ke seluruh Lebanon.
Ia menjelaskan bahwa sasaran utama Beirut bukan hanya menghentikan perang, tetapi juga memastikan pasukan Israel ditarik mundur, wilayah selatan dapat dipulihkan, para tahanan dan pengungsi kembali, serta perluasan konflik bisa dicegah. Dalam kerangka itu, negosiasi dipandang sebagai instrumen untuk meredakan tekanan militer sekaligus membuka jalan bagi pemulihan wilayah yang terdampak.
Israel dan Lebanon terakhir kali duduk dalam perundingan damai pada Agustus lalu di Roma, Italia, dengan mediasi Amerika Serikat. Pertemuan tersebut merupakan putaran ketujuh sejak dialog dimulai pada 14 April. Sebelumnya, pada 26 Juni, kedua pihak sempat mencapai kesepakatan: Israel bersedia menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan dan menghentikan serangan, sementara Hizbullah diminta menghentikan serangan balasan. Lebanon juga diberi peran untuk mengawasi agar kelompok itu tidak melanggar kesepakatan.
Namun, implementasi kesepakatan itu tidak berjalan mulus. Hingga kini, pasukan Israel belum sepenuhnya meninggalkan Lebanon selatan, dan serangan ke kawasan tersebut masih berlangsung. Situasi makin memanas setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Rabu (14/10/2026) mengancam akan mengambil alih lebih banyak wilayah di Lebanon selatan. Dengan kondisi itu, kelanjutan putaran ke-8 masih belum jelas. Jadwal pertemuan yang semula direncanakan pada September lalu juga batal terlaksana karena Israel dan Amerika Serikat sama-sama tengah sibuk menghadapi agenda pemilu, termasuk pemilu sela AS pada 3 November mendatang.






















