Patrolmedia, Jakarta – Proses perbaikan jalan Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam melalui jalur Malalak di Sumatera Barat pasca banjir bandang, saat ini mencapai 85%.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan jalan Padang Pariaman – Agam akses vital yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang.
BNPB pun kini tengah berupaya memulihkam infrastruktur pasca banjir bandang di Sumatera Barat dan terus menunjukkan perkembangan.
“Kami harapkan dalam minggu ini jalan tersebut sudah bisa segera difungsionalkan dan digunakan secara umum oleh masyarakat,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers update kondisi terkini Aceh, Sumut dan Sumbar pasca banjir, dilihat dari kanal Youtube BNPB, Selasa (16/12/2025).
Selain perbaikan jalan, kata Abdul, pihaknya juga mempercepat pemasangan jembatan bailey di sejumlah titik prioritas di Sumatera Barat.
Dari 4 titik yang direncanakan, 3 jembatan sudah selesai dan dapat digunakan, sementara 1 jembatan lainnya masih dalam tahap pengerjaan.
Abdul Muhari menjelaskan, proses pemulihan akses darat sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.
Hujan dengan intensitas tinggi kerap menjadi kendala yang menghambat percepatan pekerjaan tim di lapangan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BNPB terus melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Barat.
Operasi ini melibatkan 2 pesawat dan dilakukan secara berkelanjutan dengan evaluasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Upaya ini kami lakukan agar intensitas hujan bisa ditekan, sehingga pemulihan sektor darat dan distribusi logistik, terutama melalui jalur udara, dapat berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Di sisi lain, progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak juga terus berjalan.
Di Kabupaten Padang Pariaman, sebanyak 72 unit huntara telah mulai dikerjakan sejak beberapa waktu lalu.
Sementara itu, di Kota Padang, pemerintah daerah telah menetapkan titik lokasi pembangunan huntara.
Saat ini, usulan teknis yang lebih detail masih dalam proses penyusunan untuk segera diajukan ke BNPB agar dapat direalisasikan.
Secara keseluruhan, Abdul Muhari menyebut 5 kabupaten dan kota di Sumatera Barat telah menentukan lokasi pembangunan huntara.
Lokasi ini dilengkapi dengan kepastian status lahan yang dinyatakan clean and clear, dengan luas area berkisar antara 6.000 hingga 30.000 meter persegi.
Sejumlah lokasi bahkan direncanakan langsung menjadi hunian tetap dengan konsep rumah tumbuh dari hunian sementara.
(Kml/Ft)






















