Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah mengambil langkah sigap dalam merespons dampak banjir besar yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kebijakan khusus berupa penundaan seleksi petugas haji dan relaksasi pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) diberikan kepada calon jamaah haji yang berasal dari wilayah-wilayah terdampak.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap situasi darurat yang masih berlangsung di tiga provinsi tersebut. Penundaan seleksi petugas haji bertujuan untuk memberikan waktu persiapan yang lebih memadai bagi daerah-daerah yang terkena dampak bencana.
“Pendaftaran petugas ditunda dulu khusus untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kami ingin memberikan ruang persiapan lebih matang untuk daerah yang terdampak,” ujar Dahnil.
Selain penundaan seleksi petugas haji, pemerintah juga memperpanjang masa pelunasan BPIH. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa para calon jamaah haji yang sedang berjuang menghadapi dampak banjir tidak kehilangan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Masa pelunasan BPIH yang semula dijadwalkan berakhir pada 23 Desember diperpanjang.
“Ini bentuk kepedulian sekaligus memastikan tidak ada jamaah yang gagal berangkat karena situasi di luar kendali mereka,” tegas Dahnil.
Dahnil mengungkapkan bahwa dua daerah yang terkena dampak banjir, yaitu Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah, memiliki makna khusus baginya karena merupakan kampung halaman keluarganya. Aceh Tamiang adalah tempat kelahiran ibunya, tempat ia menghabiskan masa sekolah dasar. Sementara itu, Tapanuli Tengah adalah kampung halaman ayahnya, tempat ia pernah mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama.
Sebagai bentuk kepedulian pribadi, Dahnil bersama dengan relawan dari Matahari Pagi Indonesia terjun langsung ke lapangan untuk menyalurkan bantuan kepada para korban banjir. Ia menekankan bahwa musibah banjir ini harus menjadi momentum bagi evaluasi nasional terhadap cara kita merawat alam.
“Harus ada koreksi. Komitmen merawat alam, hutan, sungai,” kata Dahnil. Ia juga berharap agar organisasi-organisasi masyarakat Islam seperti LDII, Muhammadiyah, dan NU dapat turut berperan aktif dalam membangun kesadaran ekologis di kalangan jamaah.
Menurut Dahnil, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab setiap individu, bukan hanya tanggung jawab kolektif. “Semua orang punya tanggung jawab,” tegasnya.
Ketua DPP LDII sekaligus Guru Besar IPB, Prof. Sudarsono, sependapat dengan Dahnil mengenai pentingnya kesadaran ekologis. Ia menekankan perlunya dakwah ekologis mengingat luasnya lahan kritis yang perlu dipulihkan, mencapai 12,7 juta hektare.
“Kondisi ini nyata, apalagi ketika banjir dan longsor melanda Sumut, Aceh, dan Sumbar,” ujarnya.
Sudarsono menjelaskan bahwa menanam pohon adalah investasi jangka panjang yang sangat penting.
- Pohon memiliki peran vital sebagai mesin kehidupan.
- Pohon mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang kita hirup.
- Pohon juga berperan dalam menjaga siklus air dan mencegah terjadinya longsor.
- Tanpa adanya pohon, bencana alam akan menjadi kejadian yang rutin terjadi.
Ia juga mengingatkan tentang peran penting pohon dalam tradisi Nusantara, di mana pohon dianggap sebagai simbol kehidupan dan memiliki hubungan spiritual yang erat dengan alam.
LDII telah menjalankan program Go Green sejak tahun 2007 dan telah menanam jutaan pohon. Komitmen ini diimplementasikan melalui berbagai kegiatan pendidikan di pesantren, sekolah, serta melalui kegiatan organisasi hingga tingkat kelurahan.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus kegiatan adalah Bumi Perkemahan Cinta Alam Indonesia di Wonosalam, Jombang. Tempat ini menjadi pusat edukasi dan pembinaan karakter cinta lingkungan bagi generasi muda.
“Menanam pohon itu ibadah. Pohon yang ditanam hari ini akan memberi oksigen dan air bagi anak cucu. Indonesia yang hijau dan berkelanjutan bisa dicapai jika semua pihak terlibat,” ujar Sudarsono.
LDII juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, agar rehabilitasi lahan kritis dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang nyata.
“Menanam pohon itu sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Pohon kecil yang kita tanam hari ini bisa menjadi penopang kehidupan,” pungkasnya.























