Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah melakukan investigasi terhadap delapan perusahaan yang diduga memiliki peran dalam kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatera. Kerusakan ini diyakini memperparah dampak banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di pulau tersebut. Pemeriksaan ini masih dalam tahap awal dan belum ada kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab secara hukum.
Irjen Pol Rizal Irawan, Deputi Penegakan Hukum Lingkungan KLH, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memanggil beberapa perusahaan untuk dimintai keterangan. “Senin ini kami memanggil beberapa perusahaan, di antaranya Agincourt, Toba, Sago Nauli, serta PLTA,” ujarnya.
Indikasi Pembukaan Lahan Masif di Batang Toru
KLH mengindikasikan adanya pembukaan lahan secara besar-besaran di wilayah Batang Toru. Pantauan udara menunjukkan aktivitas ini dilakukan untuk berbagai keperluan, termasuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Hutan Tanaman Industri (HTI), pertambangan, dan perkebunan kelapa sawit.
Rizal menjelaskan bahwa aktivitas pembukaan lahan ini memberikan tekanan tambahan pada kawasan DAS. “Dari overview helikopter, terlihat jelas aktivitas pembukaan lahan untuk PLTA, hutan tanaman industri, pertambangan, dan kebun sawit. Tekanan ini memicu turunnya material kayu dan erosi dalam jumlah besar,” katanya.
Ekosistem Batang Toru merupakan kawasan hutan hujan tropis yang luasnya mencapai 120–150 ribu hektare. Kawasan ini membentang di wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Batang Toru dikenal sebagai habitat penting bagi orangutan Tapanuli dan merupakan benteng terakhir hutan tropis di Sumatera Utara.
Jadwal Pemeriksaan Perusahaan
KLH telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap delapan perusahaan yang diduga terlibat dalam kerusakan DAS. Berikut adalah daftar perusahaan dan jadwal pemeriksaannya:
Senin, 8 Desember 2025:
- PT Agincourt Resources (Tambang Emas Martabe, Batang Toru, Tapanuli Selatan)
- PT Toba Pulp Lestari Tbk (Unit PKR, Tapanuli Selatan)
- PT North Sumatera Hydro Energy (PLTA Batang Toru)
- PT Sago Nauli Plantation (Perkebunan sawit, Tapanuli Tengah)
Selasa, 9 Desember 2025:
- PT Pahae Julu Micro-Hydro Power (PLTMH Pahae Julu)
- PT SOL Geothermal Indonesia (Geothermal, Tapanuli Utara)
- PTPN III Batang Toru Estate (Perkebunan sawit, Tapanuli Selatan)
- PT Multi Sibolga Timber
Respons Perusahaan Terkait Tuduhan Kerusakan Lingkungan
Beberapa perusahaan yang disebut dalam investigasi KLH telah memberikan respons terkait tuduhan kerusakan lingkungan.
PT Agincourt Resources: Melalui pernyataan tertulis pada 1 Desember 2025, perusahaan menyatakan bahwa area Tambang Martabe berada di luar titik banjir bandang. Mereka juga mengklaim telah menghentikan sementara operasional untuk membantu evakuasi dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak. Perusahaan menilai tudingan yang mengaitkan aktivitas tambang dengan bencana masih prematur dan menyatakan komitmen untuk bekerja sama penuh dengan KLH.
PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL): Dalam surat resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), TPL menegaskan bahwa kegiatan operasional mereka memiliki izin resmi dan dijalankan sesuai prinsip Pengelolaan Hutan Lestari serta standar lingkungan yang berlaku.
PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE): Pada 2 Desember 2025, NSHE mengklarifikasi bahwa proyek PLTA Batang Toru dirancang berdasarkan kajian lingkungan mendalam. Mereka menyatakan kesediaan untuk menyerahkan data teknis kepada KLH sebagai bagian dari proses investigasi.
Dampak Bencana Banjir Bandang dan Longsor
Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera telah menyebabkan dampak yang sangat besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Korban Jiwa dan Pengungsi: BNPB mencatat 961 korban meninggal, 235 orang hilang, dan lebih dari 5.000 warga terluka akibat bencana ini. Jumlah pengungsi mencapai 1.057.482 jiwa.
Kerusakan Infrastruktur: Sebanyak 156.500 rumah rusak, 1.200 fasilitas umum hancur, dan 435 jembatan putus di 52 kabupaten/kota.
Kondisi di DAS Batang Toru: Di kawasan DAS Batang Toru, Tapanuli Selatan, tercatat 85 korban jiwa. Wilayah Garoga di Tapanuli Utara masih terisolasi, sehingga bantuan hanya bisa disalurkan melalui udara.
Kepala Pusdatin BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa jumlah pengungsi meningkat tajam. “Kemarin jumlah total pengungsi yang kita laporkan 975.039 jiwa, per hari ini ada tambahan dari Aceh Timur dan Bener Meriah data jumlah jiwanya menjadi 1.057.482 jiwa,” ujarnya dalam konferensi pers. Investigasi oleh KLH diharapkan dapat mengungkap penyebab utama bencana ini dan mencegah kejadian serupa di masa depan.























