
BAT berdiri di atas lahan 30 hektare dan direncanakan bertambah 25 hektare. Total investasi mencapai Rp 1,7 triliun, dengan porsi PMDN lebih dari 40 persen.
Dalam peresmian ini, BAT juga meneken sejumlah kerja sama strategis, termasuk dengan Pitmont System dan FTAI Service untuk pengembangan layanan mesin dan komponen pesawat.
Pemerintah: MRO yang Kuat Bisa Tekan Biaya Operasional Maskapai
Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menekankan bahwa kapasitas MRO dalam negeri seperti BAT sangat dibutuhkan untuk memperbaiki efisiensi penerbangan nasional.
Saat ini terdapat 570 pesawat terdaftar di Indonesia, namun baru 360 pesawat berada pada level siap operasi.
Saat yang sama, Lion Air Group mengoperasikan 297 pesawat, tetapi hanya 186 yang berada dalam kondisi service level.
“Hanggar BAT mampu menangani hingga 27 line maintenance, termasuk dua fasilitas full painting. Ini mengurangi antrean panjang perawatan pesawat,” kata Lukman.
Menurut dia, antrean perawatan yang panjang dan lambatnya pasokan suku cadang memperbesar biaya operasional maskapai, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga tiket dan suplai penerbangan.
Pemerintah, ujarnya, terus berupaya menurunkan beban melalui pengaturan logistik dan insentif pajak.
Fasilitas Rumah untuk Karyawan Mulai Dibangun 2026
Sebagai bagian dari pengembangan, BAT juga menyiapkan pembangunan sekitar 3.000 unit rumah bagi karyawan di sejumlah lokasi seperti Punggur, Tembesi, dan Nongsa.
Pembangunan dijadwalkan dimulai pada 2026. Rumah tersebut akan diberikan dengan mekanisme kepemilikan setelah karyawan bekerja lebih dari 10 tahun.
“Ini upaya kami memberikan fasilitas jangka panjang bagi seluruh karyawan,” ujarnya.
(Ipl/Ft)






















