Perayaan Hari Guru Nasional dan Purna Tugas di Kecamatan Masbagik
Suasana penuh semangat dan kebanggaan mewarnai peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) serta pelepasan Purna tugas di Kecamatan Masbagik. Di tengah deretan para guru yang hadir dengan senyum dan harapan, sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Dengan nada tegas namun hangat, ia membawa kabar yang menyejukkan bagi ribuan tenaga pendidik di daerah ini.
“Insya Allah, sertifikasi guru akan tuntas pada tahun 2026. Seperti kata pak Mentri,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah para peserta. Kalimat singkat itu seolah menjadi sinar terang di tengah perjalanan panjang perjuangan para guru. Sertifikasi bukan hanya soal tunjangan, tetapi juga pengakuan atas profesionalitas dan pengabdian mereka di dunia pendidikan.
Tak berhenti di situ, Kepala Dinas juga menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap nasib guru P3K paruh waktu, yang selama ini sering dilanda kekhawatiran akan status dan keberlanjutan tugas mereka. Ia memastikan bahwa semua tenaga paruh waktu yang telah masuk dalam database akan mendapatkan SK dan tetap menerima gaji seperti tahun sebelumnya. “Gaji tahun 2026 masih sama seperti tahun 2025,” katanya, memberikan kepastian yang selama ini dinanti-nantikan banyak guru.
Lebih menggembirakan lagi, ia menegaskan bahwa sekitar 1.500 guru Honorer tidak akan dirumahkan. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak akan tinggal diam melihat para pengabdi pendidikan kehilangan tempatnya. Bahkan, pembiayaan untuk guru paruh waktu akan tetap dianggarkan melalui dana BOS, sebagai bentuk komitmen nyata agar proses belajar mengajar di sekolah-sekolah tetap berjalan tanpa hambatan.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas juga menyoroti kondisi tenaga pendidik di Lombok Timur yang jumlahnya kini mencapai lebih dari 1100 orang. Namun, ia mengakui masih ada ketimpangan distribusi guru di sejumlah wilayah. “Ada sekolah yang kelebihan guru, ada juga yang masih kekurangan. Ke depan kita akan atur kembali agar tidak ada yang dirugikan,” ujarnya bijak. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan sistem pendidikan yang adil dan merata di seluruh pelosok Lombok Timur.
Tak lupa, ia menyampaikan apresiasi khusus untuk Kecamatan Masbagik yang disebutnya sering menjadi barometer bagi kecamatan lain. Dari Masbagik, banyak lahir ide, inovasi, dan semangat kebersamaan yang menginspirasi dunia pendidikan Lombok Timur. “Masbagik ini selalu jadi contoh. Kalau di sini semangatnya besar, biasanya kecamatan lain ikut bergerak,” katanya disambut senyum bangga para guru yang hadir.
Sambutan itu ditutup dengan pesan penuh motivasi: agar guru tetap berpegang pada dedikasi dan pengabdian, karena dari tangan merekalah masa depan bangsa dibentuk. “Tidak ada guru yang akan ditinggalkan. Semua akan kita perjuangkan,” ucapnya mantap.
Hari itu, di bawah langit Masbagik yang cerah, semangat guru seolah menyala kembali. Mereka tidak hanya mendengar janji, tetapi juga merasakan kehadiran kepedulian yang nyata. Sebuah harapan baru tumbuh — bahwa pendidikan di Lombok Timur akan terus melangkah maju, dengan guru sebagai jantungnya yang berdenyut penuh semangat.























