Pengiriman Pertama Seafood Jepang ke China Setelah Pencabutan Larangan
Pada hari Kamis (5/11/2025), Jepang mengirimkan enam ton scallop beku dari Pulau Hokkaido bagian utara ke China. Ini menjadi pengiriman pertama setelah larangan impor yang diberlakukan oleh Beijing selama hampir dua tahun dicabut. Informasi ini disampaikan oleh Minoru Kihara, Sekretaris Kabinet Jepang, dalam konferensi pers pada Jum’at (7/11/2025). Ia menyambut baik perkembangan ini sebagai tanda pemulihan hubungan dagang di sektor kelautan antara Jepang dan China.
Kiriman scallop ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan antara kedua negara mengenai protokol pengawasan ketat demi menjamin keamanan produk seafood yang diekspor ke China. Langkah ini juga menjadi bukti bahwa kemitraan perdagangan antara Jepang dan China semakin membaik setelah adanya perdebatan mengenai pelepasan air limbah radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi.
Alasan Larangan Impor Seafood dari Jepang oleh China
Larangan impor seafood dari Jepang oleh China diberlakukan pada Agustus 2023 sebagai respons terhadap pelepasan air limbah nuklir hasil pengolahan dari Pembangkit Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik. Pembangkit tersebut mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi dan tsunami pada 2011 yang menyebabkan kebocoran limbah radioaktif. Jepang menyatakan bahwa pelepasan air limbah tersebut aman dan telah mendapat verifikasi serta dukungan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Namun, China menilai adanya risiko kontaminasi sehingga melarang impor seafood dari Jepang sebagai langkah pencegahan. Meskipun begitu, pihak China terus memantau situasi dan mencari solusi untuk memulihkan hubungan dagang antara kedua negara.
Larangan Impor Masih Berlaku untuk Wilayah Fukushima dan Sekitarnya
Pada Juni 2025, Jepang dan China mencapai kesepakatan untuk mencabut larangan impor sebagian besar seafood Jepang dengan syarat fasilitas pengolahan ikan di Jepang harus terdaftar dan disertai sertifikat inspeksi untuk memastikan produk tanpa kontaminasi radioaktif. Meskipun sebagian besar provinsi Jepang diizinkan ekspor ke China, seafood dari Fukushima dan sembilan provinsi sekitar masih tetap dilarang diimpor oleh China.
Jepang terus mendorong agar larangan tersebut segera dicabut sepenuhnya, termasuk larangan impor daging sapi Jepang yang telah berlangsung sejak 2001. Pihak Jepang berharap bahwa China akan segera mengambil langkah-langkah yang lebih transparan dan dapat dipercaya untuk menjaga kepercayaan pasar.
Perkembangan Terbaru Mengenai Hubungan Dagang
Beberapa waktu lalu, PM Jepang Fumio Kishida mengunjungi China dan menekankan pentingnya mengakhiri larangan impor seafood dari Jepang. Ia berharap bahwa dengan peningkatan komunikasi antara kedua negara, hubungan dagang bisa kembali stabil dan saling menguntungkan.
Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa sering mengonsumsi seafood dapat meningkatkan risiko paparan zat kimia seperti PFAS. Namun, hal ini tidak langsung berkaitan dengan isu larangan impor dari Jepang ke China. Tapi, penting bagi konsumen untuk tetap waspada dan memperhatikan kualitas produk yang dikonsumsi.
Kesimpulan
Pengiriman scallop pertama dari Jepang ke China setelah pencabutan larangan menandai awal dari pemulihan hubungan dagang antara kedua negara. Meskipun ada tantangan dan kekhawatiran, langkah ini menunjukkan bahwa Jepang dan China siap bekerja sama untuk menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih baik dan aman. Dengan terus memperkuat komunikasi dan transparansi, harapan besar diarahkan agar hubungan bilateral dapat terus berkembang secara positif.























