
Patrolmedia, Yerusalem – Israel setop serangan militernya selama 10 jam dalam sehari di Gaza dan mengizinkan masuknya bantuan makanan sementara untuk warga.
Bantuan itu disalurkan melalui Yordania dan Uni Emirat Arab dengan cara menjatuhkan pasokan makanan via udara ke daerah terdampak kelaparan.
Melansir Reuters, Senin (28/7/2025), operasi militer Israel terpaksa dihentikan atas desakan Internasional, karena semakin memburuknya krisis kemanusiaan yang terus meningkat di Gaza.
Israel setop serangan militer di Gaza dimulai pukul 10 pagi hingga 8 malam (0700-1700 GMT) hingga pemberitahuan lebih lanjut di Al-Mawasi.
Al-Mawasi adalah kawasan kemanusiaan yang ditunjuk di sepanjang pantai di pusat Deir al-Balah dan Kota Gaza utara.
Militer Israel mengatakan rute pengiriman makanan ditentukan bagi konvoi dan mulai diberlakukan pukul 6 pagi dan 11 malam sejak Minggu, (28/7/2025).
Untuk mendukung kelancaran pengiriman, rute-rute aman telah dibuka di berbagai titik di Gaza guna memfasilitasi pergerakan konvoi dari PBB dan organisasi bantuan lainnya.
Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyebut pengiriman bantuan lewat udara bukan solusi ideal.
“Bantuan udara itu mahal, tidak efisien, dan bahkan bisa membunuh warga sipil yang kelaparan,” tegas Lazzarini, dilansir AFP.
Israel menampik tudingan membatasi distribusi bantuan. Mereka malah menyalahkan beberapa badan PBB yang dituduh gagal menyalurkan pasokan yang sudah tersedia di Gaza.
Namun, kelompok-kelompok bantuan internasional menuding militer Israel lah yang membatasi akses menuju wilayah distribusi.
Bahkan Israel menciptakan kondisi yang berbahaya di sekitar titik-titik pembagian bantuan.
Kepala bantuan PBB Tom Fletcher mengatakan stafnya akan meningkatkan upaya mendistribusikan makan untuk warga yang kelaparan selama jeda pertempuran.
“Tim kami akan berusaha semua yang kami bisa untuk menjangkau sebanyak mungkin orang yang kelaparan dalam kurun waktu ini,” ujar Fletcher di X.
Seorang Pejabat Yordania mengatakan, bantuan makanan yang dikirim lewat udara oleh Yordania dan Uni Emirat Arab akan dijatuhkan sebanyak 25 ton bantuan ke Gaza sejak Minggu.
“Pengiriman tersebut bukan pengganti pengiriman melalui darat,” kata Pejabat tersebut.
Pejabat kesehatan Palestina di Gaza melaporkan, setidaknya 10 orang terluka akibat jatuhnya kotak bantuan.
Selain itu, proyek UEA juga membuat jaringan pipa baru untuk memasok air dari fasilitas desalinasi di negara tetangga Mesir.
Militer Israel mengatakan, kebutuhan air ini dibangun untuk disalurkan kepada sekitar 600.000 warga Gaza di sepanjang pantai dalam beberapa hari.
Kementerian Kesehatan Gaza di daerah kantong yang dikuasai Hamas mengatakan, puluhan warga Gaza telah meninggal karena kekurangan gizi dalam beberapa minggu terakhir selama Juli 2025.
Situasi di lapangan juga masih mencekam. Pada Sabtu (26/7/2025), lebih dari 50 warga Palestina dilaporkan tewas akibat tembakan membabi buya pasukan Israel.
Beberapa korban yang tewas dibantai Israel itu dilaporkan sedang menunggu distribusi bantuan saat serangan dilancarkan.
Editor: Erwin Syahril






















