
“Sementara itu, ekonomi AS berisiko mengalami resesi dan dolar kehilangan nilainya. Para penganut kedaulatan melakukan kerusakan, di mana-mana,” sambungnya.
Konferensi Katolik Negara Bagian New York yang mewakili para uskup negara bagian menuduh Trump melakukan cemooh terhadap umat Katolik.
“Tidak ada yang pintar atau lucu tentang gambar ini, Tuan Presiden,” tulis mereka.
“Kami baru saja menguburkan Paus Fransiskus terkasih kami dan para kardinal akan segera memasuki konklaf khidmat untuk memilih penerus baru Santo Petrus. Jangan mengejek kami.”
Surat kabar berhaluan kiri di Italia, La Repubblica, juga menampilkan gambar tersebut di berandanya pada Sabtu (3/5/25) dengan komentar yang menuduh Trump memiliki megalomania patologis.
Merespon prilaku Trump, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Trump terbang ke Italia memberi penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus dan menghadiri pemakamannya.
“Dia merupakan pejuang setia bagi umat Katolik dan kebebasan beragama,” kata Leavitt.
Influencer sayap kanan terkemuka dan sekutu Trump Jack Posobiec, berpartisipasi dalam acara doa Katolik pada Maret lalu di resor Trump di Florida. Ia lebih membelas Trump.
“Saya seorang Katolik. Kami semua membuat lelucon tentang pemilihan Paus mendatang sepanjang minggu ini. Itu disebut selera humor,” tulis Posobiec di media sosial X.
Sekutu dekat Trump, Senator Lindsey Graham ikut menimpali.
“Saya gembira mendengar Presiden Trump terbuka terhadap gagasan menjadi Paus berikutnya,” kata Graham.
“Ini benar-benar akan menjadi kandidat kuda hitam, tetapi saya akan meminta konklaf kepausan dan umat Katolik untuk tetap berpikiran terbuka tentang kemungkinan ini!” tulis Graham, RS.C di akun X – nya.
“Kombinasi Paus-Presiden AS pertama memiliki banyak keuntungan. Mengawasi asap putih…. Trump MMXXVIII!” tulis dia lagi.
Sekedar tambahan, konklaf yang digelar secara rahasia mewajibkan untuk mengasingkan para kardinal.
Hal itu dilakukan untuk mencegah kekuatan sekuler luar yang berpotensi akan memengaruhi pilihan mereka, seperti yang terjadi pada abad-abad sebelumnya.
Editor: Fatmi Rahim






















