Hamas Sebut Sandera Israel Akan Dibebaskan Sabtu 15 Februari

Sandera Israel
Buldoser dan Truk pengangkut logistik berbendera Mesir dan Qatar menunggu memasuki Gaza di perbatasan Rafah, perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, Kamis (13/2/25).
Sandera Israel
Buldoser dan Truk pengangkut logistik berbendera Mesir dan Qatar menunggu memasuki Gaza di perbatasan Rafah, perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, Kamis (13/2/25).

Patrolmedia -:- Militan Hamas menyebut pihaknya akan membebaskan 3 sandera Israel berikutnya sesuai rencana akhir pekan ini, Sabtu (15/2/25) dengan imbalan tahanan Palestina juga dibebaskan.

Hal ini meningkatkan prospek penyelesaian perselisihan besar mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza.

Melansir AP, Jumat, (14/2/25), belum ada komentar langsung dari Israel terkait pengumuman Hamas yang akan membebaskan sandera.

Israel mengancam akan melanjutkan serangannya jika para sandera tidak dibebaskan pada Sabtu ini sesuai jadwal.

Sebelumnya, Hamas mengumumkan akan menunda pembebasan sandera lantaran Israel tak menaati perjanjian gencatan senjata dan tidak mengizinkan cukup tempat berlindung, pasokan medis, bahan bakar dan peralatan berat untuk membersihkan puing-puing di Gaza, di antara dugaan pelanggaran gencatan senjata lainnya.

Kedua belah pihak telah melakukan 5 pertukaran sejak 19 Januari, membebaskan 21 sandera dan lebih dari 730 tahanan Palestina sejauh ini selama fase pertama gencatan senjata .

Perang dapat berlanjut jika tidak ada kesepakatan yang dicapai pada fase kedua yang lebih rumit.

Kedua pihak menyerukan pengembalian semua sandera yang tersisa dan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu.

Disamping itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump.

Dalam teguran langkanya, Erdogan menentang apa yang disebutnya sebagai “tantangan” Donald Trump terhadap dunia, termasuk usulan Trump untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.

“Tindakannya menimbulkan ancaman terhadap perdamaian global,” kata Erdogan.

Padahal Erdogan dan Trump telah menjalin hubungan pribadi yang dekat selama masa jabatan pertama Trump.

Erdogan menyebut satu sama lain sebagai teman, meskipun hubungan antara kedua negara NATO tersebut sering kali tegang.

“Sejujurnya, saya tidak menganggap perilaku Tuan Trump di masa lalu dan pernyataan serta tantangannya saat ini terhadap banyak negara di dunia adalah benar, dan saya tidak melihatnya sebagai perkembangan yang positif,” kata Erdogan di Jakarta, saat kunjungan kenegaraannya pada Rabu (12/2/25).

 

Editor: M. Ichsan