
Pararaton mencatat, Nambi gugur dalam benteng pertahanan akibat serangan bertubi-tubi para panglima perang Majapahit. Begitu pula dengan seluruh pengikut dan keluarganya.
Dengan tewasnya rakryan patih pertama kerajaan Majapahit itu, Halayudha kembali tersenyum manis, ambisinya terpenuhi.
Targetnya tercapai, Halayudha menduduki jabatan rakryan mahapatih menggantikan Nambi yang sebelumnya menjabat rakyan patih.
Penulis Raka Revolta dalam bukunya yang berjudul Konflik Berdarah di Tanah Jawa: Kisah Para Pemberontak (2008) lempengan tembaga Sidateka bertarikh tahun saka 1245 atau 1323 Masehi menyatakan bahwa yang menjadi Mahapatih Majapahit adalah Dyah Halayuda.
Pararaton mengisahkan Runtuhnya Lumajang dengan menyebut tahun saka Naganahutwulan. Negarakertagama mengatakan tahun Mukti guna paksarupa. 2 versi itu menunjukkan tahun yang sama yakni 1238 Saka atau 1316 Masehi.
Pada tahun 1316 itu pula, Arya Wiraraja sang penguasa Lumajang wafat.
Dikisahkan, tragedi Nambi dan jatuhnya Lumajang, memantik pergolakan di sejumlah daerah bawahan Majapahit, termasuk Pasadeng (Sadeng) dan Patukangan (Ketha) yang merupakan wilayah Lumajang Tigang Juru yang dirintis Arya Wiraraja.
Kematian Nambi terbalas melalui pemberontakan Sadeng dan Ketha yang sempat membuat Majapahit kewalahan walau akhirnya tetap memenangkan peperangan.
Penulis: Erwin Syahril
Editor: Erwin Syahril




















