
Namun Kidung Sorandaka mencatat ayah Nambi bernama Pranaraja. Wiraraja dan Pranaraja adalah sosok yang sama, meski belum dipastikan 100% kebenarannya.
Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2012) menyimpulkan, Wiraraja dan Pranaraja merupakan 2 sosok yang berbeda. Wiraraja adalah ayah Ranggalawe, sedangkan Pranaraja ayahanda Nambi.
Hal itu dikuatkan dengan penemuan Prasasti Kudadu tahun 1294 yang mencatat, Wiraraja dan Pranaraja adalah tokoh yang berbeda meski sama-sama punya jabatan penting di Kerajaan Singasari di rezim Raja Kertanegara pada periode yang sama.
Jadi, dapat diartikan ayah Nambi adalah Pranaraja, bukan Arya Wiraraja. Dalam kisahnya, Pranaraja berasal dari Daha (Kediri). Ia bermaksud ke Lumajang untuk menemui kawan lamanya Arya Wiraraja, ayah Ranggalawe.
Dilanjutkan, kepulangan Nambi waktu itu dikawal pengikutnya dan ditemani sejumlah pejabat Majapahit. Nambi bergegas ke Lumajang untuk mengetahui kondisi Pranaraja.
Setiba di Lumajang, Pranaraja ternyata sudah wafat saat Nambi diperjalanan menuju Lumajang.
Kabar duka itu pun segera tersiar ke Majapahit. Si licik Halayuda yang mendapat informasi itu, langsung memanfaatkan momen untuk merencanakan melenyapkan Nambi.
Mewakili Majapahit, Halayudha datang melayat ke Lumajang dan menyampaikan ucapan belasungkawa dari Raja Jayanagara.
Kisah Ranggalawe yang Dianggap Pemberontak di Era Raden Wijaya




















