Walikota Cup III yang sejatinya dijadwalkan di 2020, tertunda karena Covid-19, dan baru digelar tahun ini.
Walikota Solok Cup III ini mementaskan 1.500 taekwondoin (atlet taekwondo) untuk memperebutkan sekira 200 medali di empat kategori, yakni kategori pra cadet, cadet, yunior dan senior.
Kategori pra cadet merupakan taekwondoin yang masih dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).
Sementara cadet di usia SD, kategori yunior untuk sekolah SMP, dan kategori senior untuk para siswa SMA dan universitas.
Dipertandingkannya kategori pra cadet, cadet dan yunior, secara langsung mampu menarik para orang tua taekwondoin ke Kota Solok.
Sebab, ketika anak yang sedang “lucu-lucunya” pergi bertanding, mayoritas orang tua seakan tak kuasa untuk “melepasnya”, meski para taekwondoin usia dini itu didampingi dan dijaga oleh offisial dan pelatih. Apalagi bertanding jauh di negeri orang.
Akibatnya, dari 1.500 taekwondoin yang berlaga, jumlah kunjungan para orang tua dan dunsanak-dunsanak (saudara) yang ikut “nebeng” ke Kota Solok, kini tak kurang sekira 5.000 orang pengunjung wara wiri di Kota Solok.
Keberadaan sekira 5.000 pengunjung di Kota Solok tersebut, membuat penuh penginapan dan menggerakkan sektor usaha di bidang konsumsi.
Bagi yang “bapitih” (ekonomi mapan), hotel dan home stay menjadi pilihan. Sementara, bagi ekonominya menengah ke bawah, rumah-rumah penduduk menjadi pilihan menginap.
Tak kurang, sekira Rp 50 ribu hingga Rp100 ribu dikeluarkan masing-masing atlet dan keluarganya, setiap hari selama di Solok. Artinya ada tambahan tak kurang dari Rp250 juta hingga Rp500 juta uang beredar di Kota Solok.
Penulis: Niko Irawan
Editor: M Ichsan




















