Rizki juga mengatakan kalau para aktivis 98 tidak mau, masa depan bangsa ini harus diserahkan ke tangan orang yang berlumuran darah saudaranya sendiri.
“Kami ingin, anak-anak kami, generasi muda saat ini bisa mewarisi negeri yang mampu memberikan keadilan, menegakkan hak asasi manusia dan terbebas dari mimpi buruk masa lalu,” katanya.
Menolak Capres Tuan Tanah
Selain menolak Capres dengan dugaan pelanggaran HAM berat dimasa lalu, Pena 98 juga menolak Capres yang menjadi tuan tanah dengan penguasaan lahan yang luas, sementara masih banyak rakyat yang tidak memiliki lahan bahkan untuk tempat tinggal sekalipun.
Bahwasanya pemimpin Indonesia bukanlah dari segelintir orang yang menguasai lahan untuk kepentingan sendiri di tengah kemiskinan jutaan orang lainnya.
Rizki menyebut tuan-tuan tanah yang mengkooptasi lahan negara dan menguasainya untuk kepentingan pribadi tidaklah layak menjadi Capres di negeri ini.
“Kami yakin, ketika seorang Tuan Tanah dibiarkan menjadi pemimpin di Republik Indonesia, maka ketamakan dan kehausannya akan harta dan kekuasaan akan semakin merajalela” ucapnya. (Erwin)






















