Celios: Transparansi transaksi dan isu independensi bursa jadi sorotan di balik ancaman penurunan status MSCI

Panbil Mall

Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai ada dua persoalan utama yang membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan isu transparansi transaksi saham dan kekhawatiran atas independensi pengawasan bursa menjadi faktor yang paling mencuat setelah laporan MSCI terbaru beredar pada Jumat (16/10).

Menurut Bhima, salah satu pemicu perhatian MSCI adalah akuisisi saham Bayan yang dinilai tidak terbuka. Ia menyebut transaksi itu bahkan diduga berkaitan dengan kredit agunan saham di Bank Mandiri. Dari situ, muncul kekhawatiran adanya hubungan afiliasi antarpelaku pasar yang tidak terlihat jelas oleh publik. “gelap nih transaksinya,” ujarnya kepada JawaPos.com pada Minggu (18/10).

Faktor kedua, lanjut Bhima, berkaitan dengan rencana Danantara membeli saham Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah demutualisasi bursa. Ia menilai langkah tersebut menimbulkan pertanyaan besar soal jarak antara pihak yang diawasi dan pihak yang mengawasi. Dalam pandangannya, kondisi itu bisa memunculkan benturan kepentingan karena peran pelaku pasar dan pengawas berpotensi bercampur. “Pemain dan wasit jadi tercampur. Padahal harusnya kan terpisah,” katanya.

Bhima juga menyoroti rencana Danantara untuk berperan sebagai penstabil pasar atau market stabilizer. Ia menilai kebijakan itu belum tentu menjawab kebutuhan ekonomi yang lebih mendasar, terutama jika tujuan utamanya adalah menciptakan lapangan kerja. Menurut dia, investasi di pasar saham berbeda dengan penanaman modal langsung yang bisa mendorong pembangunan pabrik, menyerap tenaga kerja, dan menghasilkan efek berantai bagi ekonomi.

Ia mempertanyakan apakah dana yang masuk ke bursa saham otomatis akan berujung pada aktivitas produksi di sektor riil. Karena itu, ia menilai pendekatan yang hanya berfokus pada pasar modal berisiko tidak menyentuh akar persoalan, yakni turunnya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Bhima menyebut arus dana keluar dari saham tidak akan pulih jika masalah keyakinan pasar tidak lebih dulu dibenahi.

Dalam penjelasannya, Bhima mengingatkan bahwa posisi Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets juga sudah menyusut tajam. Bobot Indonesia yang semula 1,16 persen kini turun menjadi 0,43 persen. Artinya, porsi Indonesia dalam indeks itu menyusut sekitar 63 persen, dan kondisi tersebut berpotensi mengurangi aliran dana dari investor global yang menjadikan MSCI sebagai acuan.

Ia menilai penurunan bobot itu tidak bisa dianggap remeh karena MSCI merupakan salah satu rujukan utama bagi investor institusi dan pengelola dana pasif. Jika bobot Indonesia terus mengecil, kesempatan pasar saham domestik menarik dana baru juga ikut menyempit. Bhima pun mendesak pemerintah dan otoritas pasar modal untuk segera menyelesaikan persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penguatan bukti penegakan aturan agar kredibilitas pasar kembali pulih.